5 Hal Buruk Di Balik Unjuk Rasa Berskala Besar yang harus Kamu Ketahui 5 Hal Buruk Di Balik Unjuk Rasa Berskala Besar yang harus Kamu Ketahui


5 Hal Buruk Di Balik Unjuk Rasa Berskala Besar yang harus Kamu Ketahui
Liputanberita.net - Pada tanggal 4 November 2016 mendatang dikabarkan bakal ada unjuk rasa dengan skala besar.

Adapun untuk maksud dari unjuk rasa tersebut dilakukan untuk dapat menuntut pihak kepolisian agar bisa memproses kasus hukum tentang penistaan agama.

Dugaan penistaan agama tersebut diduga dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta, Ahok yang sedang mencalonkan diri sebagai calon gubernur di Pilgub DKI Jakarta 2017.

Menanggapi hal tersebut, salah seorang netizen bernama Afifuddin Lubis menuliskan pendapatnya tentang “5 Hal yang Perlu Diwaspadai Kalau Terjadi Unjuk Rasa Skala Besar”.


Berikut kutipan kami dari laman Kompasiana milik Afifuddin Lubis:

Unjuk rasa atau demo adalah hak warga yang diberikan oleh demokrasi yang tertuang dalam berbagai peraturan per-undang-undangan di Negara ini yang dimaksudkan sebagai sarana untuk menyampaikan aspirasi masyarakat.Namun tidak dapat dinafikan sarana demokrasi tersebut juga dapat menimbulkan ekses lain apabila penggunaannya melenceng dari ketentuan.Untuk itu perlu diwaspadai 5 hal.

Pertama, adanya agenda lain yang dipersiapkan

Publik dan aparat keamanan akan diberitau tentang dilaksanakannya demo dan sekaligus mencantumkan tujuan ,sasaran dan lokasi dimana demo akan dilaksanakan.Tetapi bukan tidak mungkin terjadi sejak awal inisiator demo telah mempunyai agenda lain yang telah dipersiapkan.Misalnya demo mengusung thema “turunkan harga beras”. Thema ini tentu menarik karena menyangkut hajat hidup orang banyak karenanya banyak masyarakat yang ikut dan mendukung demo tersebut.Tetapi ketika demo berlangsung inisiator demo menjadi mengarahkan massa untuk meminta Bupati turun dari jabatannya karena dinilai tidak mampu memimpin daerah.

Kedua, adanya pembonceng gelap

Inisiator demo sesungguhnya beriktikad baik untuk melaksanakan demo sesuai thema atau tuntutan demo yang diusung tetapi ada orang lain yang merupakan pembonceng gelap yang punya tujuan lain dan ketika demo berlangsung mereka mengarahkan massa untuk meneriakkan atau menyampaikan tuntutan lain sesuai dengan agenda yang dipersiapkannya.Ketika demo berlangsung dan ketika suasana psikologis massa sudah mulai panas bukan hal yang sulit bagi para pembonceng gelap untuk membelokkan tujuan demo sesuai dengan agenda yang dipersiapkannya.

Ketiga, adanya provakasi pihak lain

Melalui berbagai pemberitaan tentu masyarakat mengetahui akan adanya demo maka pada Hari H ada kelompok yang sudah mempersiapkan tindakan untuk memprovakasi peserta demo.Sering terjadi ketika peserta demo sudah bubar dari tempat sasaran dan menuju pulang dalam kelompok yang lebih kecil dan kelompok kecil ini dapat dijadikan sasaran misalnya dengan mengeluarkan kata kata yang sifatnya mengejek kemudian saling berbalas balasan ejekan sehingga suasana jadi panas yang kemudian dapat mengakibatkan keonaran bahkan bisa terjadi kontak fisik.

Keempat, adanya kelompok masyarakat yang tidak senang adanya demo

Kelompok masyarakat yang tidak senang dengan adanya demo karena misalnya demo tersebut akan berniat melengserkan seorang Kepala Daerah sementara Kepala Daerah tersebut juga punya massa pendukung maka pendukung Kepala Daerah mempersiapkan demo tandingan terutama di lintasan yang akan dilalui oleh pendemo lain.Hal seperti ini rawan untuk memicu terjadinya bentrokan fisik .

Kelima, penggunaan sentimen suku atau agama yang berlebihan

Sebuah demo apalagi yang diikuti oleh massa dalam skala besar sangat rawan terprovakasi dengan sentimen suku atau keagamaan lalu meneriakkan yel yel atau melakukan tindakan melecehkan simbol suku atau agama maka hal seperti ini dapat menimbulkan reaksi balasan dari kelompok suku atau agama yang merasa terhina dengan tindakan tersebut sehingga kalau tindakan balasan terjadi maka sangat potensial munculnya konflik komunal maupun gesekan horizontal. Selalu dinyatakan bahwa salah satu buah besar Reformasi ialah semakin diakuinya hak hak masyarakat untuk menyampaikan aspirasinya, adanya kebebasan menggunakan instrumen demokrasi seperti unjuk rasa dan sebagainya tentu dengan tujuan agar kualitas hidup kita sebagai bangsa terus meningkat.Tetapi harus juga diingat penggunaan hak demokrasi juga diatur oleh seperangkat hukum sehingga demokrasi yang dilaksanakan harus selalu dalam koridor hukum. Selain koridor hukum harus juga dipedomani asas kepatutan yang hidup dan berkembang dalam masyarakat apalagi bangsa ini merupakan himpunan dari berbagai suku dan pemeluk agama yang bertekad untuk menegakkan ke Ika an dalammke-Bhinneka -an.

Untuk itulah sejak awal para Bapak Bangsa telah meletakkan dasar dasar yang kokoh sebagai landasan kehidupan kebangsaan dan menjadi tugas kita semualah untuk melanjutkan cita cita luhur para Bapak Bangsa tersebut.Hanya dengan tekad yang demikianlah bangsa yang besar ini akan mampu menjaga terus eksistensi nya. (*)

Salam Persatuan !

Artikel Menarik Lainnya

loading...

Baca Juga Ini

[random][fbig1]
Diberdayakan oleh Blogger.
IBX582A9C9AF3C11