IRONI... Inilah Kehidupan Dimas Kanjeng vs Santri di Padepokan IRONI... Inilah Kehidupan Dimas Kanjeng vs Santri di Padepokan


IRONI... Inilah Kehidupan Dimas Kanjeng vs Santri di Padepokan
Liputanberita.net - Hari mulai pagi, sejumlah orang lalu lalang masuk ke dalam bilik-bilik toilet darurat. Ada sekitar 10 petak toilet yang hanya terbuat dari bambu dan ditutup dengan terpal plastik. Masing-masing bilik berukuran 2X1 meter itu diberi tulisan tanda laki-laki dan perempuan sebagai tanda pemisah.

Begitulah kondisi salah satu fasilitas kamar mandi sekaligus kakus di Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi di Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Probolinggo, Jawa Timur. Hingga Kamis, 13 Oktober 2016, tersisa sekitar 200 pengikut yang bertahan di padepokan. Sejak Taat ditangkap 22 September lalu, kebanyakan pengikutnya pulang ke daerah asal atau pindah ke rumah-rumah penduduk.

Gemericik air terdengar dari balik bilik toilet darurat. Di bawahnya tak ada saluran pembuangan air bekas mandi atau kencing maupun kotoran manusia. “Santri” remaja hingga yang berusia lanjut tampak memanfaatkan fasilitas toilet darurat yang jauh dari syarat bersih dan sehat tersebut. Tak jauh dari toilet terdapat tiga tenda dan satu gubuk tempat tinggal para 'santri'.

Tenda-tenda yang terkesan kumuh itu berada di luar pagar areal padepokan. “Kami memasak, mandi, dan mencuci di sini,” kata Misrun, pengikut Dimas Kanjaeng asal Malang. Pakaian yang sudah dicuci dijemur dengan jemuran dari batang bambu. Mereka ini 'santri' pendatang yang tak kebagian tempat di barak atau tenda di dalam areal padepokan.

Sementara, puluhan barak atau tenda di dalam padepokan lebih tertata rapi. Tenda-tenda dibuat kokoh dengan rangka kayu dan batang bambu. Bahkan, beberapa tenda sudah dihias dengan tanaman hidup dan foto-foto junjungan mereka, Dimas Kanjeng. Bendera merah putih sisa perayaan Hari Kemerdekaan 17 Agustus lalu pun masih terpasang di atap tenda.

Meski tinggal di tenda yang tertata rapi, pengikut yang berharap berkah uang dari Dimas Kanjeng tetap saja kepanasan di siang hari dan kedinginan saat malam. Sebab, tenda hanya beratap terpal plastik dan tidak berdinding tembok atau kayu lapis. Meski begitu, mereka tetap setia pada Dimas yang dianggap punya kelebihan khusus, memunculkan barang secara gaib terutama uang.

“Saya di sini mencari ketenangan, dibanding di rumah lebih tenang di sini,” kata Sujadi, pengikut asal Rembang, Jawa Tengah. Ia merasa senang dengan rutinitas padepokan. “Kami diajak salat jemaah dan istigasah serta olahraga,” katanya. Ia membantah pernah memberi mahar uang sebagai syarat penggandaan uang.

Hal yang sama dikatakan Dian, pengikut wanita asal Jakarta. Ia sudah sekitar lima bulan tinggal di padepokan, bahkan anaknya juga diajak tinggal di padepokan. “Kalau di rumah saya tidak bisa salat secara tertib, tapi di sini selalu dibangunkan untuk salat,” katanya.

Ia juga membantah pernah menyetor mahar uang pada Dimas Kanjeng. “Ibadah di sini juga tidak ada yang menyimpang. Syahadat dan salatnya sama dengan umat Islam lainnya,” katanya. Menurutnya, ia dan ratusan pengikut hidup bahagia dan saling bekerjasama selama tinggal di padepokan. “Kami masak bareng dan bersih-bersih setiap hari,” katanya.

Berbeda jauh dengan “santrinya” yang tinggal di barak atau tenda, Taat tinggal di sebuah rumah megah dan mewah. Rumahnya ibarat gedung besar dengan sejumlah pilar beton berornamen ukiran kayu.

Saat reka ulang kasus pembunuhan dua anak buah Dimas yang melibatkan pemilik padepokan dan 13 tersangka lainnya, Tempo melirik bagian dalam rumah Taat. Awak media memang dilarang masuk ke dalam rumah karena masih dalam proses penyidikan.

Dari luar tampak terlihat lantai rumah terbuat dari marmer. Begitu juga perabot rumah yang rata-rata terbuat dari marmer. Rumah megah dan mewah itu baru sekitar dua tahun lalu dibangun. “Dengar-dengar itu sumbangan pengusaha properti dari Makassar,” ucap salah satu pengikut, Muslih. Di rumah inilah terdapat dua ruang rahasia yang digunakan untuk menyimpan uang asli setoran mahar para santri. Namun saat digeledah, uang tersebut raib.

Padahal, sebelum padepokan berdiri pada 2007, rumah Dimas sederhana. “Dulu rumahnya sama dengan tetangga-tetangganya, biasa dan kecil,” kata salah satu wartawan yang sempat meliput aksi Dimas mengeluarkan uang dari balik bajunya pada 2006 silam.

Rumah di padepokan itu merupakan rumah isteri pertama Dimas, Rahma Hidayati. Sedangkan rumah orang tua Taat berada di dusun lain yang masih berada di Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Probolinggo.

Rumah isteri kedua dan ketiganya yang berada di Desa Kabongagung, Kecamatan Kraksaan, Probolinggo juga terbilang mewah. Jaraknya sekitar 15 kilometer dari padepokan. Rumah isteri kedua, Laila, berada di Perumahan Jatiasri. Rumah berlantai dua itu ditinggali Laila dengan dua anaknya.

Sedangkan rumah isteri ketiga, Mahfeni, di Dusun Karangdampit, kosong dan tertutup sejak Taat ditangkap polisi. Di rumah isteri kedua dan ketiga ini juga dikabarkan ada ruang rahasia untuk menyimpan uang asli setoran dari para pengikut Dimas.

Dimas yang selama ini hidup mewah dengan tiga isteri, kini meringkuk di tahanan Kepolisian Daerah Jawa Timur. Hawa dingin dan gerah kini dirasakannya sama seperti yang dirasakan pengikutnya yang tinggal di tenda dan gubuk merana menunggu janji palsu pencairan penggandaan uang. (tmp)

Artikel Menarik Lainnya

loading...

Baca Juga Ini

[random][fbig1]
Diberdayakan oleh Blogger.
IBX582A9C9AF3C11