Jika Jadi Presiden AS, Trump Bersumpah Jebloskan Hillary ke Penjara | Liputan Berita


Jika Jadi Presiden AS, Trump Bersumpah Jebloskan Hillary ke Penjara
Liputanberita.net - Donald Trump bersumpah akan memasukkan rivalnya, Hillary Clinton, ke penjara jika dirinya menjadi Presiden Amerika Serikat (AS). Hal ini dilontarkan Trump dalam debat capres saat membahas soal skandal email Hillary saat menjabat Menteri Luar Negeri AS.

Dalam debat capres kedua yang digelar di Washington University, St Louis, Missouri, seperti dilansir Reuters dan CNN, Senin (10/10/2016), Trump menyatakan dirinya akan menunjuk jaksa khusus untuk memeriksa email-email Hillary yang disebutnya membahayakan keamanan nasional AS.

"Jika saya menang, saya akan menginstruksikan Jaksa Agung saya agar menunjuk jaksa khusus untuk memeriksa situasi Anda, karena tidak pernah ada begitu banyak kebohongan, ada banyak pengecualian," ucap Trump.

Email-email itu merupakan email yang dikirim via server pribadi semasa Hillary menjabat Menlu AS di bawah pemerintahan periode pertama Presiden Barack Obama tahun 2009-2013 lalu. Hillary menjadi fokus penyelidikan otoritas AS terkait skandal emailnya tersebut.

"Semua yang dia katakan, jelas salah, tapi saya tidak terkejut," ucap Hillary menanggapi serangan Trump soal skandal emailnya.

"Anda tahu bagaimana baiknya jika seseorang dengan temperamen seperti Donald Trump jika bertanggung jawab atas hukum di negara ini," imbuhnya.

"Karena Anda akan dijebloskan ke penjara," timpal Trump kepada Hillary, yang disambut sorakan penonton.

Debat capres kedua digelar dengan format town hall meeting yang menghadirkan 40 warga AS yang belum menenukan pilihan, di atas panggung untuk bertanya langsung pada kedua capres. Presenter berita CNN Anderson Cooper dan presenter berita ABC Martha Raddatz menjadi moderatornya.

Lebih lanjut Hillary kembali mengakui bahwa skandal email itu memang kesalahannya dan berjanji tidak akan mengulanginya. Hillary juga menegaskan, hasil penyelidikan menunjukkan tidak bukti kuat bahwa server pribadinya diretas maupun adanya informasi rahasia negara yang bocor.

"Tidak ada bukti peretasan server yang digunakan, tidak ada bukti bahwa material rahasia jatuh ke tangan yang salah," tegasnya.

"Saya menangani material rahasia dengan sangat serius," imbuh Hillary. (dtk)

Artikel Menarik Lainnya

Baca juga ini

[random][fbig1]
Diberdayakan oleh Blogger.
close