Tamparan Keras Pandji Pragiwaksono Kepada Pendukung Cagub Anies dan Ahok! Tamparan Keras Pandji Pragiwaksono Kepada Pendukung Cagub Anies dan Ahok!


Tamparan Keras Pandji Pragiwaksono Kepada Pendukung Cagub Anies dan Ahok!
Liputanberita.net - Baru-baru ini Pandji Pragiwaksono seorang Komedian yang juga Aktor ini mendeklarasikan diri sebagai pendukung Anies - Sandi. Pandji memang cukup berteman baik dengan Anies Baswedan.

Didalam blog pribadi milik Pandji, dia menuliskan sebuah artikel yang cukup menampar keras para pendukung masing - masing cagub yang saling menjatuhkan lawannya demi memenangkan calon Gubernur pilihannya. Tak heran semua cara dipakai, mulai dari kampanye negatif hingga kampanye hitam.

Untuk lebih lengkapnya silahkan Anda baca artikel dibawah ini :

Anies ternyata jahat

Kenapa orang tidak terbiasa untuk pelan pelan dalam menerima informasi?

Dicerna saja dulu.

Bingung saya.

Ayah saya almarhum pernah menasehati, “Mas, cepat boleh. Buru buru, jangan”

Karena Ayah tahu persis dulu saya saking inginnya cepat, malah terburu buru sehingga tidak teliti dan ujungnya melakukan sesuatu yang salah. Sejak Ayah nasehati tadi, saya selalu berusaha untuk ngerem atau setidaknya nggak ngebut sebelum/ ketika berkata atau bertindak.

Nampaknya, lebih banyak orang perlu melakukan hal yang sama. Karena banyak orang bereaksi terhadap berita, atau menyebarkan berita, tanpa benar benar meneliti isinya. Dicermati kata per kata sebelum keburu emosi dan beraksi.

Mungkin lalai. Atau mungkin disengaja. Dimanfaatkan judul berita yang didesain sebagai click bait (pancingan berupa judul yang sengaja sedikit melenceng, supaya orang klik link atau retweet beritanya) untuk mendiskreditkan pihak tertentu. Ini juga bisa jadi salah satu alasannya.

Contohnya beberapa hari ini, terkait ucapan Mas Anies bahwa pembersihan Kali di Jakarta dimulai dari era Foke. Banyak banget pada ngamuk. Saya juga kurang yakin kenapa. Karena kalau mereka pelan pelan saja dan memproses dulu infonya, dipikirkan lagi konteksnya. Mereka akan menyadari satu hal, Pak Basuki sama sekali tidak membantah. Ni orang orang musti ingat lagi, Pak Basuki dan Mas Anies ini kan berteman, jadi mungkin sekali informasi yang Mas Anies punya datangnya dari Pak Basuki langsung. Kenapa kok pada ngamuk ya. Lagipula, andai mereka verifikasi pernyataan tersebut, google google dikit aja, langsung ketauan benar atau tidaknya pernyataan ini.

Awalnya, proyek Jakarta Emergency Dredging Initiative (JEDI) itu idenya datang dari Fauzi Bowo pada tahun 2008. Beliau berencana nyari uangnya dari pinjaman World Bank. Tapi waktu itu dilarang Ibu Sri Mulyani yang saat itu menjabat jadi Menkeu, karena aturannya uang dari World Bank itu harusnya masuk lewat pemerintah pusat, ga bisa langsung ke pemerintah daerah. Akhirnya itu proyek baru bisa dimulai Maret 2012 setelah pemerintah pusat keluarkan dua Peraturan Pemerintah Baru terkait pinjaman World Bank >> http://www.berita8.com/berita/2011/11/fauzi-bowo-kecewa-terkait-proyek-jedi

Pada akhirnya proyek JEDI dimulai di era Jokowi jadi Gubernur DKI tahun 2013. Bahkan beliau sendiri bilang program JEDI yang beliau resmikan adalah program lama yang tertunda >> http://megapolitan.kompas.com/read/2013/12/11/1045245/Tertunda.di.Era.Foke.Proyek.JEDI.Diresmikan.Jokowi
>> http://jakartabagus.rmol.co/read/2013/12/11/136136/Soal-Proyek-JEDI,-Jokowi-Hanya-Lanjutkan-Program-Foke-
>> http://ahok.org/berita/news/video-jokowi-ground-breaking-jedi/

Pak Jokowi jadi Presiden, programnya lanjut ke Pak Basuki.
>> http://m.monitorday.com/read/detail/26003/ahok-ngebet-selesaikan-proyek-warisan-foke
>> http://m.monitorday.com/read/detail/26003/ahok-ngebet-selesaikan-proyek-warisan-foke

Nah pernyataan Mas Anies-pun diucapkan bukan dalam konteks menghina. Justru memuji Pak Basuki, sekaligus menghormati 2 pendahulu beliau. Dengan ikut mengapresiasi 2 Gubernur terdahulu dalam andilnya terhadap JEDI yang hari ini kita bisa nikmati sama sama hasilnya karena kerja keras Pak Basuki.

Apa maksudnya memuji Pak Basuki?

Karena Pak Basuki, punya niat baik melanjutkan program program yang baik walau datang dari Gubernur sebelumnya. Kalau anda mengikuti berita berita terkait politik dan pemerintahan sejak lama, harusnya anda tahu masalah terbesar kita adalah: Ganti menteri, ganti semua kebijakan. Ganti gubernur, ganti semua kebijakan. Ganti pemimpin, ganti semua kebijakan. Seakan akan anti banget dengan pendahulunya atau takut disebut dibayang bayangi pemimpin sebelumnya. Padahal, program yang baik butuh waktu untuk dijalankan. Kalau sebuah program baik lalu berhenti karena pemimpinnya berganti, ya ga selesai selesai dong pembangunan?

Tahu nggak Tembok Cina itu dibuat berapa lama? Itu tembok berdiri total sepanjang 21.000 km lebih. Tembok China dibangun selama 2000 tahun, Dinasti Ming sendiri ngerjainnya 200 tahun. Dibangun untuk menahan serangan dari luar masuk ke kekaisaran China. Kebayang gak kalau tiap ganti pemimpin trus ganti program. Ketika berganti kepemimpinan, pemimpin berikutnya bilang “Program Tembok China adalah kebijakan pendahulu saya dan tidak akan saya lanjutkan!”. Kalau itu terjadi, Tembok China tidak akan disebut “The Great Wall Of China”. Disebutnya“That weird looking 200 meter wall standing alone in the middle of nowhere in China”

Pemimpin baik akan melanjutkan kebijakan dan program baik dari yang terdahulu karena dia tahu itulah yang terbaik untuk rakyatnya. Makanya Mas Anies juga bikin pernyataan, beliau akan lanjutkan program Pak Basuki yang baik dan bagus. Anehnya, pernyataan itu dianggap pernyataan cagub yang ga punya program dan males kerja. Lah gimana sih, yang bener kan harusnya begitu. Bahkan Pak Basuki melanjutkan punya Pak Jokowi, Pak Jokowi melanjutkan punya Pak Foke, Pak Foke melanjutkan punya Bang Yos, dan seterusnya. Ini kan hal baik yang menggambarkan Mas Anies dan Pak Basuki berkawan baik sehingga program Pak Basuki yang belum selesai akan dilanjutkan. Bukan dihentikan serta merta.

>> http://news.detik.com/berita/3310459/anies-akan-teruskan-program-ahok-yang-baik-jika-terpilih-jadi-gubernur

Ada lagi nih kasus yang buru buru diramaikan tanpa pelan pelan dicermati. Terkait kelebihan dana Tunjangan Profesi Guru. Diramaikan seakan akan itu indikasi Mas Anies korup di Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Padahal asal verifikasi dikit aja, google google dikit, aja. Langsung keliatan yang sebenarnya.

TPG bukan anggaran Kemdikbud. Itu dana transfer daerah karena guru adalah PNS Pemda. (Fakta ini banyak yang tidak tahu, bahwa terkait pendidikan di daerah sebenarnya dibawah pemda bukan kementerian) Jadi transfer dari Kementerian Keuangan langsung jatuh ke Pemda. Selama ini Pemda mengusulkan anggaran pegawai yang terlalu banyak. Sehingga sering terjadi sisa.

Jumlah Guru di banyak daerah rata rata sekitar 80% dari total PNS di daerah tersebut. Besar jumlahnya. Sering kali, guru sudah pensiun, atau mutasi tapi oleh pemda tetap dicatat sbg pegawai sehingga ketika dijumlahkan secara nasional jadi timbul kelebihan anggaran.

Masalah ini sudah ada sejak 2007. Bahkan di tahun 2013, kelebihan anggaran di Pemda telah mencapai Rp 10 T, dan Irjen Kemdikbud saat itu juga sudah permasalahkan ini.

Makanya Kemendikbud minta ke Kemenkeu supaya Rp 23,3 T kelebihan anggaran tersebut tidak disalurkan.





Jadi pemotongan ini bukan inisiatif Menteri Keuangan (yg baru dilantik 27 Juli 2016) tapi melanjutkan hal baik (tuh, lagi lagi melanjutkan program baik / hal baik dari pendahulunya) yang sudah dimulai Kemdikbud sejak bulan Mei 2016, di era Mendikbud Anies dan Menkeu Bambang Brodjonegoro.

Jadi andaikan orang orang mau lebih sabar dan tidak langsung nurut diarah arahkan oleh pihak lain yang juga mungkin buru buru, ini justru prestasi Mas Anies. Ingat nggak waktu Pak Basuki selamatkan dana APBD sampai sekitar 12 Trilyun? Nah ini sama situasinya, Mas Anies justru selamatkan dana kelebihan sekitar 23.3 Trilyun.

Coba tuh liat. Udah mah ni 2 orang bertemen, sama sama mau melanjutkan program pemimpin sebelumnya yang baik, sama sama menyelamatkan uang rakyat, kenapa sama orang orang Pak Basuki dan Mas Anies malah diadu adu ya?

https://m.tempo.co/read/news/2016/08/27/079799434/pemangkasan-tunjangan-guru-ternyata-diusulkan-kementerian-pendidikan

http://nasional.kompas.com/read/2016/08/28/11431651/kelebihan.anggaran.tunjangan.profesi.guru.karena.silpa.daerah.sejak.2007

https://acdpindonesia.wordpress.com/2013/09/10/dana-rp-10-triliun-mengendap-di-pemda/em



Kejadian seperti di atas, itu terjadi berulang ulang dalam beberapa waktu terakhir ini. Orang orang tidak mau sabar dulu dan mencoba meresap informasi yang dia terima dengan baik, akhirnya terburu buru lalu malah ikut ikutan menyebarkan yang salah.

Misalnya mengenai meme yang tersebar, isinya ada hubungannya dengan becandaan garing sunat sunatan. Disebarkan dengan dikatakan ini datang dari akun FB resmi Anies-Sandi. Padahal ya, asal orang yang nerima infonya memutuskan untuk buka akun itu dan liat liat isinya, langsung nyata ketauan itu gak mungkin resmi dari Anies – Sandi.

Apa susahnya coba? Tinggal buka dulu aja. Cek aja dulu sendiri. Tapi orang malah buru buru menyebarkan.

Terus yang terakhir soal kontrak Politik, ramai membahas Mas Anies mau melegalkan yang ilegal. Padahal andai orang orang pelan pelan aja bacanya, langsung keliatan di poin 1A yang dimaksud. Tulisannya kan “Melegalisasi kampung kampung YANG DIANGGAP ilegal”. Itu kan artinya, sebenarnya memang legal. Jadi bukannya Mas Anies mau nyulap status kampung. Ini memang sebenarnya legal tapi dianggap sebaliknya. Ini masalah aturan dan kebijakan yang mau dibenarkan. Kalimat selanjutnya juga menjelaskan banget padahal “Kampung kampung yang sudah ditempati warga selama 20 tahun dan tanahnya TIDAK BERMASALAH akan diakui haknya dalam bentuk sertifikasi hak milik.”



Lah? Kurang bagus apa coba?

Jangankan Mas Anies, Pak Basuki dan Agus kalau disodorkan juga akan setuju. Wong poinnya baik semua kok.

Kalau diperhatikan baik baik, Mas Anies berusaha untuk adil dengan melakukan proses legalitas guna mendukung keadilan tersebut. Mas Anies bilang, bahwa di Pancasila juga tulisannya kan “Keadilan Sosial, bagi seluruh rakyat Indonesia” bukan “Legalitas Sosial, bagi seluruh rakyat Indonesia”. Lakukan dulu yang adil bagi rakyat (Kampung kampung yang sudah ditempati warga selama 20 tahun dan tanahnya tidak bermasalah akan diakui haknya) baru dibuat kerangka legalitasnya (diakui haknya dalam bentuk sertifikasi hak milik).

Lalu kenapa orang pada ngamuk?

Sederhana.

Karena nggak dibaca baik baik

Atau

Sengaja berharap orang gak baca baik baik dan sengaja menyebar luaskan informasi yang salah. Mungkin, tujuannya untuk menjelekkan nama dan reputasi.

Kalau kita tidak mau terjebak melakukan hal yang salah, atau diperalat orang untuk menyebarkan hal yang salah, kita hanya perlu untuk sedikit menahan diri sebelum bereaksi.

Nih, tips yang bagus untuk anda di sosial media, apalagi di masa masa seperti sekarang:

“Verifikasi, sebelum anda berbagi”

Dan setiap kali dalam masa masa pilgub ini anda melihat ada indikasi yang seakan menggambarkan permusuhan antar calon Gubernur dan wakil, kembalikan ingatan anda ke foto ini.



Dan tanya baik baik kepada diri anda sendiri “Apakah mereka saling membenci? Kalau tidak, wajarkah para pendukungnya saling benci?”

Ingat, bahwa DKI Jakarta sebagaimana kota kota lain, selayaknya dipimpin terus oleh orang orang terbaik. Maka kalau ada sejumlah kandidat yang kita tahu menurut kita baik dan layak, ya kita dukung sama sama.

Orang baik beradu rebutan jabatan dengan orang jahat, kemungkinan hasilnya akan dimenangkan oleh orang baik.
Tapi kalau orang baik diadu dengan orang baik, hasilnya, adalah orang yang TERbaik.

Jadi, bersabar sebelum ikut membiarkan kesalahan menyebar. Supaya kita tidak jadi bagian dari orang yang memperluas kabar yang nyasar.

Kalau anda mau perhatikan baik baik, anda akan sadar bahwa di setiap kubu para cagub ada orang orang yang dengan liar melempar kabar yang belum tentu benar. Entah apa motivasi mereka. Saking ingin calonnya menang atau saking ingin lawannya kalah. Tapi nyata nyatanya, ada selalu orang orang yang ingin meyakinkan kita bahwa kandidat lain itu jahat. Di kubu Pak Basuki ada, kubu Agus ada, saya bahkan akui di kubu Mas Anies pasti ada. Dan orang orang ini sulit untuk dipasung karena mereka akan selalu muncul lagi. Sulit untuk diatur karena mereka tidak benar benar ada di bawah komando masing masing cagub.

Tapi kuncinya adalah, tidak membiarkan mereka menang dengan niat mereka. Caranya, verifikasi sebelum kita berbagi.

Supaya tidak terjadi di benak orang “Wah, gila juga nih berita, Pak Basuki / Agus / Anies ternyata jahat!”

PS:
Kalau anda belum sadar, judul posting ini sengaja saya desain sebagaiclick bait. Sengaja ingin menunjukkan ironinya. Bahwa memang diluar sana banyak #SiJariCepat yang kerjanya menyebarkan berita dari judul tanpa membaca isi. Kini anda bisa buktikan sendiri, justru karena judulnya begini, tulisan ini jadi tersebar luas. Sebagai pengingat bahwa memang kita musti bersabar dan berhati hati. Verifikasi sebelum berbagi. Kalau anda kesal karena terjebak, saya minta maaf, saya khilaf 

Saya memanggil Ahok dengan nama Pak Basuki karena ajakan Mas Anies. Beliau ingin contohkan berkampanye dengan baik dan sopan, sehingga kami diajak untuk memanggil Pak Gubernur dengan nama baik yang diberikan orang tuanya. Maaf kalau sempat bingung. 

Sumber : Pandji.com

Baca Juga Ini

[random][fbig1]
Diberdayakan oleh Blogger.
IBX582A9C9AF3C11