Dikritik Muhammadiyah Agar Tak Masuk Area Tafsir, Begini Tanggapan Kapolri Dikritik Muhammadiyah Agar Tak Masuk Area Tafsir, Begini Tanggapan Kapolri


Dikritik Muhammadiyah Agar Tak Masuk Area Tafsir, Begini Tanggapan Kapolri
Liputanberita.net - Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir mengingatkan Kapolri Jenderal (Pol) Tito Karnavian agar tak masuk dalam area tafsir transkip dari video Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Purnama ( Ahok) terkait dugaan penistaan agama. Pihaknya menyarankan penafsiran transkip tersebut diserahkan kepada ahli bahasa.

Menanggapi hal itu, Tito mengaku tak pernah menafsir transkip video tersebut.

"Itu kan bukan kata saya. Saya bilang kan kata keterangan ahli. Dengerin nih, waktu saya menyampaikan di sini, saya sampaikan ada versi keterangan ahli yang mengatakan beda antara yang menggunakan kata pakai dan tidak menggunakan kata pakai. Bukan kata saya," jelas Tito di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (8/11).

Tito berujar, Polri memposisikan diri sebagai penegak hukum yang meminta pendapat ahli bahasa dalam menafsir transkip video yang diunggah Buni Yani itu. Ada pun pernyataan yang dia sampaikan kepada publik hanya mengutip kata para ahli bahasa.

"Saya menyitir dari keterangan ahli, ada beberapa ahli bahasa dan agama yang kita dengar keterangannya mereka membedakan antara kata pakai dan tidak. Saya hanya mengutip. Silakan saja para ahli saling pertahankan argumennya. Penyidik hanya mendengar, menerima informasi dan menyimpulkan," jelasnya.

Sebelumnya, Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyentil Kapolri Jenderal Tito Karnavian tak masuk dalam area tafsir transkip video Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) soal dugaan penistaan agama. Haedar menyarankan agar penafsiran transkip video Ahok saat berbicara di depan masyarakat di Kepulauan Seribu diserahkan kepada ahli bahasa.

Haedar menegaskan Polri tak memiliki kapasitas untuk menafsir transkip tersebut.

"Soal pernyataan Pak Ahok antara menggunakan kata 'pakai' dan tanpa kata itu. Itulah maksudnya Pak Kapolri jangan masuk ke area tafsir tersebut agar tidak menimbulkan prasangka tertentu. Baik benar, lebih-lebih salah bisa menimbulkan pro dan kontra lagi dan nanti polisi dituding memihak," kata Haedar di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta Pusat, Selasa (8/11). (mdk)

Artikel Menarik Lainnya

loading...

Baca Juga Ini

[random][fbig1]
Diberdayakan oleh Blogger.
IBX582A9C9AF3C11