Dwi Estiningsih, Kader PKS Penyebar HOAX Lambang PKI Di Uang Rp.100.000 dan Isu Larangan Jilbab Dwi Estiningsih, Kader PKS Penyebar HOAX Lambang PKI Di Uang Rp.100.000 dan Isu Larangan Jilbab


Dwi Estiningsih, Kader PKS Penyebar HOAX Lambang PKI Di Uang Rp.100.000 dan Isu Larangan Jilbab
Liputanberita.net - Baru-baru ini kita dihebohkan dengan isu beredarnya pecahan uang Rp. 100.000 yang berlambang PKI (palu dan arit). Namun langsung dibantah secara tegas oleh Bank Indonesia (BI). Baca selengkapnya disini.

"Kami (BI) tekankan, beredarnya informasi tentang uang kertas pecahan Rp 100 ribu keluaran tahun 2014 di medsos itu tidak benar, apalagi dikatakan ada logo gambar palu dan arit," ujar Kepala Kantor Perwakilan BI Tegal Jateng, Joni Marsius di Tegal, Jateng, Sabtu (12/11/2016).

Baca juga : Polisi Pastikan Ada Pasal Pidana untuk Jerat Penyebar Informasi "Hoax"

Tahukah Anda, siapa penyebar kabar HOAX tersebut? Ternyata menurut salah satu pengakuan Netizen juga yang bernama Nophie Kurniawati, menyebutkan bahwa Dwi Estiningsih lah yang menyebarkan isu HOAX tersebut.
Dwi Estiningsih, Kader PKS Penyebar HOAX Lambang PKI Di Uang Rp.100.000 dan Isu Larangan Jilbab
Menurut pantauan tim Liputanberita.net yang mengecek postingan milik Nophie Kurniawati di Facebook, dia menuliskan sebuah postingan yang menjelaskan bagaimana isu HOAX itu bisa terjadi.

Mbok @dwi estiningsih , PKI memang sudah tidak ada. Sudah lama mati setelah ditumpas karena bikin rusuh dan mau kudeta. Yang mau mau coba2 bangkitin harus mikir ribuan kali, sebab ada UU yang melarangnya dan aparat negara siap membubarkannya lagi.

Sekarang yang ada PKS, tidak sama dengan PKI sih, tapi reseh juga anggotanya. Contohnya seperti anda itu yang demen banget nyebar hoax dan fitnah dan seperti gak pernah merasa bersalah, apalagi kapok.

Penjelasan BI soal logo rectoverso : "Selain pecahan Rp100 ribu, teknik rectoverso juga digunakan pada uang Rp2.000 sejak 2009. Sementara untuk uang Rp5.000 sejak 2001".

Saya sudah cek sendiri, duit saya pecahan 2rb dan 5rb tahun 2014, 10rb tahun 2016 dan 20rb tahun 2004 semua sudah menggunakan tehnik tersebut untuk logo BI.


Tak hanya menyebarkan isu HOAX lambang PKI di uang Rp.100.000, ternyata Dwi Estiningsih pernah menyebarkan isu bahwa pemerintah (BUMN) melarang pegawainya mengenakan jilbab syar'i.

Hal itu juga ternyata juga tidak benar adanya. Alhasil Dwi Estiningsih malah dikecam oleh netizen atas tindakannya tersebut.

Menurut artikel yang kami lansir dari Merdeka.com, Postingan Dwi lewat akunnya, @estiningsihdwi, lantas heboh dan menjadi polemik ketika sejumlah media menyebutkan jika selebaran tersebut dibuat oleh Kementerian BUMN. Lalu, siapa sebenarnya Dwi Estiningsih?

Penelusuran merdeka.com, Dwi cukup aktif di dunia maya. Bahkan biodata dirinya pun bisa dengan mudah didapatkan dari sebuah situs pribadinya yang terhubung dengan akun Twitter @estiningsihdwi.
Dwi Estiningsih, Kader PKS Penyebar HOAX Lambang PKI Di Uang Rp.100.000 dan Isu Larangan Jilbab
Dalam situs tersebut, tercatat perempuan 36 tahun yang sudah menikah ini berpendidikan cukup tinggi dengan gelar Magister Psikologi (M.Psi). Masih dari sumber yang sama, diketahui dia juga merupakan kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS), partai oposisi pemerintahan Jokowi-JK saat ini.

Baca juga : Berulah Lagi dengan Sebut Nonmuslim Penghianat, Akhirnya Dwi Estiningsih Dilaporan Kepolisi

Dipaparkan di situs itu, Dwi pernah menjadi staf DPC Partai Keadilan, Ngampilan (1998 2002), Bendahara DPC PKS, Ngampilan (2002 2005), Ketua Bidang Perempuan DPC PKS, Ngampilan (2005 sekarang), Ketua Biro Kebijakan Publik DPD PKS (2010 - sekarang). Dia juga pernah menjadi caleg PKS untuk DPRD DIY pada Pemilu 2014, namun gagal.

Dwi pernah menjelaskan, kriteria yang tercantum tersebut adalah seleksi bagi seorang frontliner. Menurutnya, persyaratan kompetensi yang diajukan dianggap tendensius dan diskriminatif.

Baca juga : KH Maimun Zubair: Jika tak Suka Ahok ya tidak Usah Pilih, Jangan Picu isu SARA

Dia menjelaskan, jika foto yang diunggahnya tersebut asli dan bukan rekayasa. Persyaratan tersebut merupakan catatan untuk penilai dalam perekrutan.

Wanita yang merupakan guru tersebut mengatakan, tujuan dirinya mengunggah foto tersebut agar masyarakat membuka mata bahwa masih ada diskriminasi saat melamar pekerjaan. Dia menambahkan, pelarangan mengenakan jilbab telah berlaku umum.

Setelah mengunggah foto tersebut, Esti mengaku kerap mendapat teror. Teror diterima melalui telepon genggamnya. Dia pun melakukan pembelaan atas informasi yang telah disebarkannya. (*)

Baca Juga Ini

[random][fbig1]
Diberdayakan oleh Blogger.
IBX582A9C9AF3C11