Roy Suryo blak-blakan Bicara tentang SBY dan Jokowi | Liputan Berita


Roy Suryo blak-blakan Bicara tentang SBY dan Jokowi
Liputanberita.net - Joko Widodo (Jokowi) terakhir kali bertemu dan bertatap muka secara langsung dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 20 Oktober 2014. Saat itu Jokowi baru saja dilantik menjadi Presiden RI. SBY menyambutnya di Istana Negara. Keduanya tampak akrab, saling berbincang sesekali tersenyum.

Peristiwa itu sudah dua tahun berlalu. Sejak saat itu, Jokowi maupun SBY belum pernah sekalipun bertemu dan bertegur sapa. Padahal selama dua tahun terakhir, Presiden Jokowi berulang kali bertemu dengan ketua umum partai politik. Termasuk Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto yang notabene partai oposisi pemerintah.

Sudah empat kali Jokowi dan Prabowo bertemu dalam suasana hangat. Mereka berdiskusi soal masalah bangsa sampai hal ringan seperti makan bersama dan menunggang kuda di kediaman Prabowo. Pemandangan keakraban Jokowi dan Prabowo ini seolah mengikis rivalitas mereka saat Pilpres 2014 sekaligus memberi sedikit kesejukan pada iklim politik nasional.

Beberapa politisi justru menunggu langkah Jokowi bertemu dengan presiden ke-6 RI yang juga ketua umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono, seperti yang dilakukan Jokowi pada Prabowo.

"Saya pribadi sangat ini kalau misalnya waktu itu Pak Jokowi tidak hanya ke Pak Prabowo, tapi juga ke Pak SBY akan sangat bagus. Kita sudah tahu lah ibarat anchor (jangkar) politik republik ini selain Bu Mega, Pak Prabowo dan Pak SBY, juga parpol yang lain. Tapi parpol lain juga lihat pada umumnya kan sudah jelas sikap politiknya," ujar Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Roy Suryo.

Roy bicara blak-blakan, mulai dari pandangan SBY terhadap Presiden Jokowi sampai soal kemungkinan pertemuan keduanya. Pertama, SBY merasa tidak punya permasalahan dengan Presiden Jokowi meskipun saat menggelar konferensi pers terakhir SBY marah gara-gara ada yang menudingnya menggerakkan aksi massa demo 4 November. Tapi tidak jelas siapa yang dimaksud SBY, apakah pemerintah atau pihak intelijen. Yang jelas, kata Roy, SBY tidak bermasalah dengan Jokowi.

"Panas? Saya kira tidak ya. Setahu saya Pak SBY sama sekali tidak ada permasalahan dengan Pak Jokowi. Jadi fine-fine saja," kata Roy.

Dengan sedikit bercanda, Roy juga berharap bahwa Jokowi tak punya masalah dengan SBY. "Semoga demikian pula sebaliknya," tambahnya.

Kedua, sesungguhnya SBY dalam posisi menunggu jika Jokowi ingin meminta masukan dan saran dalam menyelesaikan persoalan nasional. Seperti halnya Jokowi diskusi soal masalah bangsa dengan Prabowo. Pengalaman SBY sebagai presiden selama 10 tahun diyakini bisa menjadi modal untuk memberikan masukan dan saran yang baik bagi Jokowi dan pemerintahannya yang kini mengurus negara berpenduduk lebih dari 250 juta jiwa. Bahkan SBY pernah menyampaikan pesan pada Jokowi, kapanpun membutuhkan bantuannya, dia selalu siap.

"Kita bukan dalam posisi pengen ketemu. Jadi posisinya Pak SBY atau Cikeas, wait and see. Menunggu sinyal atau kabar baik, kita siap kapan saja. Tidak ada rintangan sekecil apapun dari Pak SBY. Beliau pernah sampaikan, kapan saja kalau pak Jokowi berminat untuk bertemu monggo," jelas Roy.

SBY tidak masalah jika diminta datang ke Istana Negara untuk memberi masukan bagi pemerintahan Jokowi-JK.

"Mungkin prinsipnya bukan mengundang. Kalau mengundang kan kesannya kurang pas karena kan presidennya Pak Jokowi. Jadi akan lebih baik kalau misalnya Pak Jokowi yang mentrigger, apakah mengundang Pak SBY ke istana, no problem, Pak SBY mau saja," katanya.

Sebaliknya, SBY juga siap menjamu jika Jokowi memiliki keinginan bertandang ke Cikeas, kediamannya. Roy mencontohkan pertemuan Jokowi dan Prabowo yang pernah dilakukan di Hambalang.

"Atau Pak Jokowi bertandang. Bukan sowan lho ya, ke cikeas. Seperti Pak Jokowi kemarin bertandang ke Hambalang ke tempatnya Pak Prabowo. Kemudian Pak Prabowo ganti membalas kebaikan hati Pak Jokowi dengan datang ke Istana," sambung Roy.

Menko Polhukam Wiranto yang awalnya enggan mengomentari desakan agar Jokowi bertemu SBY akhirnya ikut angkat bicara. Dia justru mengisyaratkan pertemuan Jokowi dan SBY tak perlu dilakukan.

"Itu saya enggak usah jawab. Dalam politik itu kan enggak perlu panas baru bertemu kan. Dingin-dingin bertemu juga enggak apa-apa," kata Wiranto.

Wiranto meminta kepada semua pihak untuk tidak memanasi keadaan dengan menganggap belum bertemunya Jokowi dengan SBY sebagai suatu hal yang perlu disoroti. Apalagi kondisi politik dalam negeri mulai berangsur membaik seiring berjalannya proses hukum kasus dugaan penistaan agama yang menyeret nama Gubernur nonaktif DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.

"Ya seharusnya sudah dingin ya. Tatkala para pengunjuk rasa yang sementara ini tuntutannya sesuai dengan hukum dari kepolisian seharusnya sudah dingin dan enggak ada alasan untuk dipanas-panaskan lagi," ujarnya. (mdk)

Artikel Menarik Lainnya

Baca juga ini

[random][fbig1]
Diberdayakan oleh Blogger.
close