Sikap Welas Asih untuk Menangkal Radikalisme Sikap Welas Asih untuk Menangkal Radikalisme


Sikap Welas Asih untuk Menangkal Radikalisme
Ilustrasi
Liputanberita.net - Isu radikalisme yang terus bergulir dari satu peristiwa ke peristiwa lain, mendesak semua pihak untuk memperhatikan persoalan ini secara lebih serius. Salah satu upaya ampuh dalam meredam ancaman radikalisme adalah dengan menghayati dan mengaktualisasi sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa.

Sekelompok golongan radikal atau ekstrimis kerap kali keliru memahami hakikat perintah agama. Barangkali juga, mereka sengaja seolah-olah mengatasnamakan agama guna memvalidasi tindakan kejinya. Mereka bahkan tak segan mencederai dan membunuh pihak yang tak sepaham dengannya.

Kondisi dunia yang mengglobal, membawa andil besar dalam laju lalu lintas informasi dan paham dari segala penjuru. Termasuk radikalisme dan segala turunannya. Hal ini tentu menjadi ancaman bagi stabilitas dan keamanan di Indonesia. Selain itu, agenda mensejahterakan masyarakat pun bakal disembunyikan oleh ulah kelompok tersebut.

Dalam pandangan yang demikian, Bung Hatta (1970) menyatakan bahwa penghargaan manusia sebagai mahluk Tuhan adalah inti sila pertama Pancasila. Manusia, perwujudan cinta kasih (Rahman-Rahim) Tuhan, harus mengembangkan welas asih terhadap sesama manusia dan mahluk lainnya (Yudi Latif, 2014). Sekaligus juga menjadikan agama sebagai rahmatan lil ‘alamin (belas kasih bagi sekalian alam).

Pemahaman dan penanaman nilai ini menjadi penting karena radikalisme atau ekstrimisme tersesat dalam pandangan segmentasi (Hamza Yusuf, 2015). Artinya, mereka membangun sekat-sekat yang tegas antara pihak yang berbeda dengannya. Lebih jauh lagi, mereka menjadikannya musuh dan patut untuk dihabisi. Sementara yang didorong oleh nilai welas asih adalah toleransi dalam perbedaan. Toleransi dengan tetap menghormati keyakinan, pemahaman, dan ajaran masing-masing selama tidak mengganggu satu sama lain.

Nilai welas asih dalam beragama menjadi modal bangsa dalam menghadapi tantangan ini. Nilai tersebut sesungguhnya tidak sukar ditemukan pada corak masyarakat kita. Masyarakat paguyuban di berbagai pelosok daerah senantiasa mengedepankan nilai ini. Namun, tetap tidak bisa dinafikan bahwa ada gejala degredasi terhadapnya.

Oleh karena itu, dalam rangka penguatan dan pengaktualisasian nilai welas asih, paling tidak dapat dilakukan melalui tiga cara. Pertama, melalui sarana pendidikan. Hal ini bisa dimengerti sebab generasi muda tengah mengalami masa perkembangan afektif (perilaku), kognitif (pengetahuan), maupun psikomotorik (keterampilan). Model pendidikan yang diberikan harus mengusung nilai-niali kebajikan, welas asih, dan penghargaan terhadap sesama manusia. Agar kelak, segenap generasi bangsa mampu membentengi diri dari pengaruh paham-paham radikal.

Kedua, perlu dibentuk suatu instrumen hukum yang mendukung pengaktualisasian nilai tersebut. Instrumen yang bersifat represif maupun preventif terkait ancaman radikalisme. Ketiga, para pemimpin bangsa harus dapat menjadi tauladan bagi masyarakat. Perihal bagaimana menegakkan nilai welas asih dan toleransi. Jangan sampai kepentingan politik mengorbankan semangat ini.

Pada akhirnya, nilai-nilai yang terkandung dalam sila Ketuhanan Yang Maha Esa, akan selalu menjadi dasar bagi kita dalam berbangsa dan bernegara. (cnn)

Baca Juga Ini

[random][fbig1]
Diberdayakan oleh Blogger.
IBX582A9C9AF3C11