Siswadi, Seorang TNI AL Pemakai Tangan Bionic Pertama di Indonesia Siswadi, Seorang TNI AL Pemakai Tangan Bionic Pertama di Indonesia


Siswadi, Seorang TNI AL Pemakai Tangan Bionic Pertama di Indonesia
Liputanberita.net - Serka (Mar) Siswadi, 43, berdiri dengan sikap tegap. Khas tentara. Puluhan orang mengerumuninya. Mereka baru saja menghadiri serah terima jabatan (sertijab) kepala RSAL dr Ramelan dari Laksamana Pertama TNI dr Sulantari SpTHT KL kepada Kolonel Laut (K) dr IGD Nalendra DI SpB SpBTKV Senin (9/3). Siswadi menyalami satu per satu orang yang menyapanya.

Sepintas, tidak ada yang terlihat aneh. Namun, begitu tatapan sampai pada dua tangannya, terlihat ada yang berbeda. Tangan kanan berlapis sarung tangan putih. Sementara itu, yang kiri terbuat dari soket berwarna cokelat. Gerakan telapak tangannya membuka dan menutup seperti robot saat bersalaman. Gerakannya tidak seluwes orang kebanyakan. Pandangan Siswadi langsung melayang pada peristiwa lima bulan silam begitu ada yang menyinggung soal tangannya. "Tangan saya ini sudah diamputasi. Kena granat," ujarnya.

Saat itu, September 2014. Dia menjabat sebagai instruktur Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Marinir Angkatan Laut di Purboyo, Malang Selatan. Siswadi bertugas membimbing 90 tentara pemula kompi B dalam latihan melempar granat. Satu granat ditujukan untuk setiap siswa. Dari keseluruhan yang dilempar, ada tiga yang busung alias tidak meledak.

Sebagai instruktur, Siswadi bertanggung jawab mengamankan tiga granat busung itu. Dia harus memastikan granat tersebut aman dan tidak mencederai siapa pun. Siswadi lalu berjalan ke hutan. Dia menyisir lokasi untuk mencari tiga granat busung itu. Sesuai prosedur, dia menandai granat tersebut. Nanti granat itu diledakkan dengan jarak waktu tertentu. "Dari tiga granat itu, ketemu satu. Waktu saya pegang untuk menandai, tiba-tiba langsung blaaarr," ungkap ayah Arya Abdi Rekabari dan Aryani Regina Putri tersebut.

Seluruh tubuh Siswadi memang terlindungi baju antigranat. Namun, tangannya tidak memakai penutup apa pun. Siswadi kaget saat menyadari kedua tangannya hancur. Darah membanjiri bajunya. Beruntung, kepalanya terlindung helm sehingga tidak ikut terkena serpihan granat. "Tangan untuk kerja. Tidak ada bungkusnya," ucap pria kelahiran 14 September 1971 itu.

Siswadi tidak menyangka granat busung bisa meledak. Dia telah bertugas delapan tahun. Tidak pernah ada kejadian seperti itu. Biasanya, granat tersebut busung lantaran gagal produk yang memang tidak bisa meledak. Siswadi pun terbiasa memegang benda sebesar kepal tangan itu dan mengamankannya.

Suara ledakan keras mengagetkan seluruh kompi. Masalahnya, tempat latihan berada di tebing hutan. Kru penyelamat tidak bisa mencapai lokasi dengan cepat. Akhirnya, dia ditandu dari atas tebing. Kemudian, Siswadi diangkut dengan menggunakan ambulans menuju lapangan Puslatpur Purboyo. Tujuannya membawa Siswadi ke landasan helikopter. Selama dua jam lebih ambulans baru sampai ke landasan helikopter. Sementara itu, helikopternya tiba 30 menit kemudian.

Selama berjam-jam pendarahan, Siswadi tidak pingsan. Dia masih sadar hingga diterbangkan ke Surabaya. Di dalam pesawat, tangannya diikat. Helikopter menuju RSAL dr Ramelan. Siswadi pasrah. Dia sudah mengikhlaskan kedua tangannya. "Sakit sekali, akan tetapi harus siap. Saya anggap tangan ini titipan Allah. Sekarang diminta kembali," ucap suami Susi Handayani tersebut.

Pria kelahiran Bojonegoro itu juga masih bisa berbicara dengan tim medis. Segera setelah sampai di Surabaya, Siswadi menjalani operasi. Tindakan tersebut dipimpin Letkol Laut (K) dr Adi Suriyanto SpOT. Operasi berjalan lancar.

Saat itu salah seorang komandannya datang menjenguk. Refleks, Siswadi menyampaikan salam hormat. Dia kembali tersadar. Kedua tangannya tidak ada. Tim dokter mengamputasi tangannya hingga pergelangan. Siswadi ingat ketika itu melihat sang istri di sampingnya meneteskan air mata.

Menurut tim dokter, kondisi kerusakan dua tangan itu tidak memungkinkan direkonstruksi. Operasi bertujuan untuk membuang bagian tangan yang rusak. Dokter pun menyiapkan protese, yakni tindakan mengganti bagian tubuh hilang. Sebuah tangan bionic disiapkan untuk Siswadi. Tangan robot itu dikendalikan sinyal listrik dari otot-otot tangan lain yang masih berfungsi. Tangan buatan tersebut didatangkan dari Inggris. Software-nya berasal dari Amerika Serikat. "Ini teknologi canggih," ungkapnya.

Tangan robot itu dipasang di lengan kanannya pada Senin lalu (2/3). Awalnya terasa berat karena terbuat dari besi. Siswadi diminta belajar menggunakan tangan bionic dengan bimbingan seorang instruktur berkebangsaan Prancis yang datang ke Surabaya.

Secara teori, dibutuhkan waktu dua sampai tiga bulan untuk belajar mengoperasikan tangan bionic tersebut. Namun, Siswadi hanya membutuhkan lima hari. Padahal, Siswadi harus belajar terbiasa menyamakan pikiran dengan gerakan. "Ini karena niat. Di sini," ujarnya lantas menunjuk dadanya.

Dengan tangan bionic, Siswadi dapat melakukan aktivitas sehari-hari. Misalnya, memegang sendok, gelas, alat tulis, menyapu, melempar, dan membuka pintu. Semua itu dikerjakan tanpa bantuan orang lain. Contohnya, kemarin Siswadi memperagakan tangannya saat menulis. Dia menggoreskan nama lengkap dengan jabatan dan tanda tangannya di sebuah kertas putih. Di situ tertulis, "Kasal hebat, joss".

Dia juga menyendok semangkuk soto yang dihidangkan untuknya. Awalnya memang terlihat tidak mudah. Siswadi harus menggunakan sendok khusus yang memiliki bantalan di gagangnya. Kadang makanan tersebut sulit dimasukkan ke dalam mulutnya. Untuk mengambil tisu yang tipis, tangan bionic itu juga mampu.

Siswadi mengatakan, pada sarung tangan tersebut tampak ada robekan. Itu merupakan tempat sensor untuk menutup dan membuka. Istri dan anak-anaknya ikut membantu memasang dan melepaskan tangan robot tersebut. Setiap malam tangan bionic di-charge layaknya ponsel. Tangan bionic itu belum bisa terkena air. Jadi, saat akan masuk kamar mandi, Siswadi harus melepasnya.

Sementara itu, atas tanggung jawab dan keberanian dalam melaksanakan tugas, Siswadi mendapat penghargaan. Yakni, kenaikan pangkat istimewa oleh KSAL Laksamana Dr Marsetio pada 5 Desember lalu. Naik satu tingkat lebih tinggi dari sertu menjadi serka.

Siswadi menyebut tangan robotnya itu berharga mahal. Meski biayanya tidak sedikit, angkatan laut menanggung semua pendanaan tersebut. Siswadi menyatakan berterima kasih kepada Laksamana Dr Marsetio, tim dokter, dan semua pihak yang telah membantunya. Dia berharap kebahagiaannya bisa dirasakan orang lain. "Ini mahal. Semoga teknologinya bisa ditransfer ke sini," ujar pria yang berdomisili di kompleks Perumahan TNI-AL, Candi, Sidoarjo, itu.

Siswadi menyatakan terbuka jika ada yang mau belajar menggunakan tangan bionic kepadanya. Dia juga masih tetap ingin mengabdi di kesatuannya. Sementara itu, dr Adi Suriyanto SpOT menambahkan, Siswadi merupakan orang Indonesia pertama yang ditransplantasi tangan bionic.

Sebelum dipasangi tangan robot, ada dua tahap tindakan yang dilakukan kepada Siswadi. Pertama adalah operasi. Selain Adi, tim dokter yang melakukan operasi terdiri atas dr Andi Abdullah SpOT dan Markus Antonius SpRM.

Kemudian, tahap melatih otot yang masih berfungsi untuk mengirimkan sinyal kepada tangan bionic. Selanjutnya, membuat soket atau cangkang tangan. Soket terbuat dari plastik. Lalu, tangan berbahan metal titanium. Tangan dilindungi sarung tangan dari silikon. Total beratnya 500 gram.

Adi mengapresiasi kecepatan belajar Siswadi. Hanya dalam waktu singkat, dia bisa melakukan banyak gerakan. Saat ini hanya tangan kanan Siswadi yang dipasangi bionic hand, sedangkan yang kiri diberi tangan palsu dengan tujuan estetika. "Kenapa yang kiri belum karena mahal sekali," kata Adi.

Setelah dipasangi tangan bionic, Siswadi menjalani latihan okupasi terapi. Terapi tersebut disiapkan untuk bisa kembali bekerja seperti saat sebelum mengalami cedera. Dia juga mendukung harapan Siswadi untuk kembali mengajar di korps Marinir.

Adi mengatakan, tangan bionic itu hanya bisa digunakan untuk orang yang pernah memiliki tangan. Bukan yang cacat sejak lahir. Menurut dia, tangan robot tersebut bakal menjadi harapan bagi para prajurit yang cedera di medan pertempuran. "Ini pertama ada tangan robot di Indonesia. Kalau ada prajurit cacat, bisa dibikinkan," tegas dokter asli Pati, Jawa Tengah, tersebut.

Teknologi itu juga bisa digunakan untuk kasus lain. Misalnya, kasus kehilangan tangan karena kecelakaan dan kanker. "Kalau amputasi, satu-satunya pilihan hanya ini. Terbukti aman dan sangat membantu. Bisa melakukan aktivitas sehari-hari," ujar dokter alumnus FK Undip itu.

Menurut Adi, teknologi tangan bionic yang diaplikasikan kepada Siswadi merupakan yang tercanggih. Alat tersebut sudah dipasarkan secara komersial. Namun, kemampuannya terbatas. Yakni, belum bisa merasakan sensasi seperti keras, lunas, panas, dan dingin. Para ahli sedang melakukan riset tangan bionic yang bisa merasakan. "Yang bisa merasakan sensasi itu masih diriset. Di Amerika di Universitas Johns Hopkins," ujarnya.

Adi menyebut, sebenarnya di Indonesia pernah ada seseorang yang menggunakan tangan robot sekitar lima tahun lalu. Namun, teknologinya masih sangat sederhana. Namanya mio electric hand. Gerakan yang bisa dilakukan tangan buatan itu hanya membuka dan menutup. Tidak seperti bionic hand yang gerakannya lebih kompleks. "Kalau bionic hand, masing-masing gerakan juga bisa disetel. Misalnya, mau menekuk tangan lebih dalam atau longgar juga bisa," ungkapnya. (*)

Lihat video lengkapnya saat diundang di acara Hitam Putih :

Baca Juga Ini

[random][fbig1]
Diberdayakan oleh Blogger.
IBX582A9C9AF3C11