Anda kerap mengkritik Majelis Ulama Indonesia. Apa alasannya? Anda kerap mengkritik Majelis Ulama Indonesia. Apa alasannya?


Anda kerap mengkritik Majelis Ulama Indonesia. Apa alasannya?
Liputanberita.net - Orang sudah lupa pada sejarah MUI. Dulu Presiden Soeharto ingin mengontrol organisasi dengan meleburnya menjadi satu. Kepemudaan disatukan menjadi Komite Nasional Pemuda Indonesaia, wartawan menjadi Persatuan Wartawan Indonesia, partai-partai Islam dilebur menjadi Partai Persatuan Pembangunan.

Organisasi keagamaan Islam disatukan menjadi MUI. Tapi, dalam perkembangannya, MUI menyaingi kementerian Agama. Mereka berhak membuat label halal yang jadi domain pemerintah. MUI ini bagian dari pemerintah atau bukan, kok bisa bertindak seperti itu?

Apa akar permasalahan di MUI?

Bagaimana sistem rekrutmen pengurus? Siapa yang bisa memasukkan seseorang menjadi pengurus? Bila majelisnya adalah ulama, mengapa yang melantik mereka adalah umara (pemerintah)? Apakah umara lebih tinggi dibanding ulama? Statusnya tidak jelas.

Bila saya berkata demikian, orang bisa marah. Alasannya, masyarakat terlanjur menganggap MUI sebagai wakil agama Islam di Indonesia. Sementera itu, di Google tertulis MUI sebagai lembaga swadaya masyarakat.

Bagaimana Anda memandang pengurus MUI sekarang?

Banyak orang yang pensiun lalu masuk MUI. Malah sekarang ada orang-orang baru, yang makin tidak jelas. Orang mau jadi pegawai saja harus punya ijazah, apalagi menjadi anggota MUI, yang memberi fatwa ke rakyat Indonesia.

Jika ingin berdiri sebagai lembaga fatwa, harus diatur betul siapa saja yang boleh masuk MUI. Kok, tak dilihat dulu calon ini sekolah di mana, paham Al-Qur’an atau tidak, paham ilmu tafsir dan hadis atau tidak.

Berkembang gerakan pengawal fatwa MUI. Sejauh mana umat Islam wajib mengikuti fatwa?

Fatwa dikeluarkan mufti yang punya kriteria jelas, tapi tak mengikat. Orang yang bertanya tentang suatu persoalan kepada mufti pun tidak harus mengikutinya, karena bisa berbeda antara mufti A dan B.

Berbeda dengan keputusan qadi (hakim agama), yang mengikat. Sedangkan fatwa MUI kriterianya longgar sekali. Belakangan, ada pengawalan fatwa agar bisa diikuti. Fatwa kok dikawal. Dasarnya dari kitab apa? La ilaha illallah.

Apa solusi yang Anda tawarkan?

Rekrutmen anggota MUI harus jelas. Sekarang yang jelas cuman Ma’ruf Amin, Rais Am PBNU 2015-2020. Dulu ada almarhum Kiai Sahal Mahfudz. Selain itu, status lembaga harus jelas.

Apakah dia bagian dari kementerian atau mitra kerja. Dua bulan lalu berpolemik soal label halal dengan kementerian Agama. Perkara begitu saja kenapa kok rebutan?

Saat ini kita menghadapi maraknya hoax. Bagaimana cara membendungnya?

Kita harus hati-hati menyerap informasi, jangan asal membaginya. Kita perlutabayyun, mengkonfirmasi dan menelusuri rekam jejak sumber informasi. Kalau tidak jelas siapa sumbernya, buang saja.

Pemerintah juga harus tegas dan menganggap hoax sebagai masalah serius, khususnya isu yang membuat gaduh. Di lain sisi, kita bisa mendapatkan manfaat luar biasa dari media sosial bila kita pandai memanfaatkannya.

Termasuk berdakwa lewat media sosial?

Ya. Dakwah di medsos bisa menjadi pembanding ajakan yang akhlakul karimah, menebarkan ukhuwah Islamiyah, wathoniah, dan basyariah-persaudaraan Islam, bangsa, dan umat manusia. Akun yang baik bisa menyaingi pesan-pesan kemungkaran, yang suka menebarkan fitnah dan provokasi.

Apakah para kiai dan pondok pesantren siap berdakwah di dunia maya?

Saya lihat kalangan pesantren sudah bergerak. Sekarang banyak website dari berbagai pondok. Banyak tokoh persantren aktif di media sosial, seperti Gus Solah (Salahuddin Wahid) di Jombang dan Habib Lutfi bin Yahya di Pekalongan.

Cuma, memang masih kalah dibanding orang-orang di kota-kota yang lebih dulu menggunakan internet. Pesantren itu umumnya di desa, yang dulu memencilkan diri dari Belanda. Karena itu, mereka harus ngebut di era medsos.

November lalu, netizen Pandu Wijaya menghina Anda lewat Twitter dan Anda memaafkannya. Apa yang Anda katakan padanya?

Dia datang bersama ibunya karena takut kualat. Saya bilang: jangan takut karena saya tak malati (menyebabkan kualat). Saya ingin tahu saja, kenapa Anda mencaci saya, apakah ada perkataan atau perilaku saya yang menyakiti Anda.

Pemuda ini hanya menangis dan ternyata stres karena pekerjaan. Saya itu sederhana sekali, bila ada orang tak setuju dengan sikap atau pemikiran saya, silakan berargumentasi. Bila argumennya lebih kuat, saya akan membuang pendapat saya.

Mengapa masyarakat kini mudah sekali tersulut emosinya?

Media sosial telah mengubah seseorang menjadi berbeda dengan aslinya. Sejak kasus Pandu Wijaya, ada lima orang yang datang ke rumah karena cacian di media sosial.

Mereka mengatakan tak ada persoalan dengan topik di akun saya. Kesimpulannya, media sosial membuat orang menjadi pribadi yang lain.

Aktivitas Anda sangat padat. Kapan Anda meluangkan waktu untuk men-twit?

Saya punya waktu luang biasanya Kamis malam setiap pekan. Itu kesempatan saya men-twit. Ada juga twit Jumat yang dikirim setelah subuh, sebelum mengaji. Saya juga rutin mengirim ke anak-anak dan para menantu pesan yang namanya “Jumat Call”.

Apa saja topiknya?

Soal akhlak. Tak seperti dulu yang bernada kritik sosial. Saya hanya memberikan ungkapan-ungkapan untuk mengingatkan orang. Tapi sebetulnya kritik sosial itu bermula dari akhlak juga.

Apakah twit membuat Anda jarang menulis?

Karena saya semakin tua. Memang sudah tidak produktif. Saya hanya menulis kalau diminta. Itu pun belum tentu saya sanggupi. Kalau menulis semau saya, ya, di Twitter dan Facebook.

Anda masih tampak bugar pada usia 72 tahun. Apa rahasianya?

Saya ini korban pencitraan. Dikiranya masih muda, padahal udah tua. Saya sering kerokan sesudah pulang dari perjalanan luar kota. (Tempo)

🔙  Halaman Sebelumnya 

Artikel Menarik Lainnya

loading...

Baca Juga Ini

[random][fbig1]
Diberdayakan oleh Blogger.
IBX582A9C9AF3C11