Faktanya, kekuatan kelompok Islam berhasil mendesak kasus dugaan penistaan agama Basuki Tjahaja Purnama? Faktanya, kekuatan kelompok Islam berhasil mendesak kasus dugaan penistaan agama Basuki Tjahaja Purnama?


Faktanya, kekuatan kelompok Islam berhasil mendesak kasus dugaan penistaan agama Basuki Tjahaja Purnama?
Liputanberita.net - Unsur penistaannya di mana? Jika tindak Basuki dianggap penistaan agama, penganut Islam akan banyak yang kena, sebab orang Islam juga banyak sekali yang menistakan agama lain.

Mereka bisa dituntut balik dan bisa menimbulkan aksi saling tuntut. Jadi harus dijelaskan letak unsur penistaannya dan jangan mau dibodohi. Saya curiga, siapa yang pertama kali mencetuskan penistaan agama.

Apakah masifnya unjuk rasa pada 4 November dan 2 Desember lalu belum cukup menegaskan kemarahan umat Islam karena kasus itu?

Orang sekian banyak itu ikut-ikutan ke Jakarta untuk apa? Mereka tak tahu urusan, kok ikut datang saja. Katanya mencari ganjaran, merasa jihad fisabilillah, membela agama. Membela agama dari apa? Engga jelas.

Apakah unjuk rasa tersebut tak jelas tujuannya?

Massa itu sudah marah-marah, tapi belum tahu tentang penistaan agama. Ada yang sengaja mengatur itu. Saya ibaratkan ada santri di-setting menjadi kiai. Lalu kawan-kawannya menciumi tangannya dan diikuti jemaah lain. Setelah mencium tangan, jemaah baru bertanya siapa sosok yang dihormati tadi.

Contoh lain, ada orang yang bertariak copet di pasar. Lalu, tanpa tabayyun (mencari tahu kebenaran), yang lain langsung ikut menghajar tertuduh. Mereka tak berpikir bahwa Ahok sedang mencalonkan diri menjadi gubernur dan butuh suara dari warga yang mayoritas Islam. Kok, malah menjelek-jelekkan Islam?.

Menjelang aksi 2 Desember lalu, Anda menyebut shalat Jumat di jalanan sebagai bid’ah. Alasannya?

Shalat Jumat di jalan raya saya sebut bid’ah besar karena pada zaman Nabi Muhammad, Sahabat dan tabi’in (murid para sahabat) tak melakukan shalat di jalan raya. Ada pihak yang memakai alasan fikih untuk membenarkan tindakan itu. Katanya shalat Jumat di masjid tak muat, lalu meluber sampai jalan. Meluber apa? Wong jemaahnya didatangkan dari berbagai daerah.

Dengan pemikiran-pemikiran Anda, apakah Anda bersedia bila diminta menjadi saksi ahli kasus penistaan agama Ahok?

Saya tak akan bersedia karena bukan warga Jakarta. Cari orang Jakarta saja. Masalah itu berawal dari urusan pemilihan kepala daerah, kok mengajak orang Rembang.

Politikus sering menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sesuatu. Itu yang membuat saya tidak suka politik. Lebih ngeri karena mereka juga memanipulasi agama sebagai satu cara mencapai tujuan.

Mengapa belakangan ini negara menjadi gaduh, terutama menyangkut isu agama?

Ada yang mau mengacaukan. Kita tak paham sedang diadu domba. Kita harus menolak apa pun alasannya, jangan ditoleransi karena sangat berbahaya. Kalau yang membenturkan adalah orang asing, saya bisa memaklumi.

Tapi, kalau sesama orang Indonesia yang membenturkan, bagi saya musykil sekali. Saya punya pengalaman ketika foto saya dipasang berhadap-hadapan dengan Rizieq Syhihab. Enggak imbang karena jemaah saya lebih banyak, jumlahnya jutaan orang, ha…ha…

Jadi pengadu domba itu tidak paham sejarah kemajemukan Indonesia?

Pendiri bangsa ini dengan susah-payah melakukan rembukan yang intens agar masyarakat yang beragam ini bisa hidup dengan baik. Tapi orang yang datang belakangan tidak mempelajari sejarah, lalu merasa seolah-olah bukan orang Indonesia.

Maka, selalu saya katakan kita ini orang Indonesia yang beragama Islam, bukan orang Islam yang kebetulan di Indonesia. Banyak kiai pesantren yang tak tahu arti nasionalisme tapi mereka mencintai Indonesia karena alasan sederhana: Indonesia rumah kita.

Di sinilah kita hidup, sujud, dan akan dikebumikan. Seperti perjuangan Mbah Hasyim Asy’ari: Indonesia diperjuangkan satu tarikan napas dengan Islam. Orang yang menghancurkana rumahnya sendiri itu gendeng, nggak bisa diterima nalar.

Jika terus dibiarkan, apakah konflik di Indonesia bisa meledak seperti di Timur Tengah?

Konflik di Timur Tengah itu karena materi. Bila Timur Tengah tak ada minyak, tak akan bergolak. Irak, Libya, Suriah sudah hancur karena mereka tak waspada.

Nah, Indonesia tak hanya punya minyak, tapi ada emas dan macam-macam. Kalau kita tidak waspada, orang lain yang akan menguras kekayaan kita dan perlahan hancur.

Beberapa kelompok mengklaim tindak kekerasan tersebut bagian dari dakwah. Bagaimana model dakwah yang tepat?

Dakwah itu artinya mengajak. Beda dengan amar makruf yang artinya perintah, nahi mungkar yang bermakna melarang.

Tapi, saat ini, ketiganya selalu dicampur-adukkan. Kalau dalam dakwah diperlukan debat atau bantahan, pakailah cara yang lebih baik dan argumen yang bagus.

🔙 Halaman Sebelumnya - Halaman Selanjutnya ➞

Baca Juga Ini

[random][fbig1]
Diberdayakan oleh Blogger.
IBX582A9C9AF3C11