Gara-gara Irak dan AS, Minyak Anjlok ke 51,96 Dollar AS Per Barrel Gara-gara Irak dan AS, Minyak Anjlok ke 51,96 Dollar AS Per Barrel


Gara-gara Irak dan AS, Minyak Anjlok ke 51,96 Dollar AS Per Barrel
Liputanberita.net - Harga minyak anjlok hampir 4 persen pada perdagangan Senin (9/1/2017) di tengah kekhawatiran rekor ekspor Irak dan peningkatan produksi Amerika Serikat (AS).

Langkah AS dapat merusak upaya OPEC menyeimbangkan pasokan global. Harga minyak acuan AS tergelincir 2,03 dollar AS atau 3,8 persen, menetap di 51,96 dollar AS per barrel. Ini merupakan level penutupan harian terendah sejak 16 Desember.

Sementara itu, harga minyak acuan Brent turun 2,22 dollar AS atau 3,9 persen, menetap di 54,88 dollar AS per barrel.

Mengutip CNBC, Selasa (10/1/2017) di Irak, produsen kedua terbesar OPEC, ekspor minyak dari pelabuhan Basra Selatan, mencapai rekor tertinggi 3,51 juta barrel per hari (bph) pada Desember, berdasarkan pernyataan Menteri Minyak Irak.

Menteri Minyak Irak menggarisbawahi bahwa kenaikan ekspor minyak dari Selatan tidak akan berpengaruh terhadap keputusan negara untuk menurunkan produksinya pada Januari, mematuhi perjanjian dengan OPEC.

"Kami mendapat kepatuhan negara-negara Teluk, tetapi sebagian tampaknya sedikit gemetar," kata Direktur Divisi Berjangka di Mizuho Securities AS, Robert Yawger.

"Dengan angka besar yang keluar dari pelabuhan selatan Basra untuk Desember ... itu menyiratkan bahwa Irak dapat menjadi celah besar pertama di dinding perjanjian OPEC," imbuh Yawger.

Optimisme datang dari Rusia, salah satu produsen minyak mentah terbesar dunia, yang telah merealisasikan pemotongan produksi.

Sumber dari pasar energi Rusia kepada Reuters menyampaikan, negara telah menurunkan produksi 100.000 bph pada pekan pertama bulan ini. Menteri Perminyakan Kuwait pun mengharapkan realisasi dari komitmen besar OPEC dan produsen non-OPEC untuk memangkas produksi.

Dia menambahkan, komite akan bertemu di Wina pada 21-22 Januari untuk memantau kepatuhan dan menyepakati mekanisme monitoring akhir.

Pekan lalu, perusahaan energi AS, Baker Hughes, menambah rig selama seminggu berturut-turut sebanyak 529 unit. Analis Barclays memperkirakan jumlah rig AS naik ke 850-875 unit pada akhir tahun.

"Kami melihat optimisme OPEC dan penurunan produksi non-OPEC yang diimbangi oleh kekhawatiran produksi minyak mentah AS lebih tinggi karena jumlah rig yang lebih tinggi dari Jumat lalu," kata Hans van Cleef, ekonom energi senior di ABN Amro. (Kompas)

Artikel Menarik Lainnya

loading...

Baca Juga Ini

[random][fbig1]
Diberdayakan oleh Blogger.
IBX582A9C9AF3C11