Ormas Islam Protes! Desak Polisi Batalkan Festival Masakan Babi di Semarang Ormas Islam Protes! Desak Polisi Batalkan Festival Masakan Babi di Semarang


Ormas Islam Protes! Desak Polisi Batalkan Festival Masakan Babi di Semarang
Liputanberita.net - Organisasi Massa Pemuda Muhammadiyah, Organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Gema Pembebasan dan ormas-ormas Islam lainnya mendatangi Polrestabes Semarang usai sholat Jumat (20/1). Tujuannya adalah melakukan audiensi tentang penyelenggaraan pork festival atau festival masakan Babi yang digelar di Semarang menjelang perayaan Imlek.

“Besok siang bakda Jumat Pemuda Muhammadiyah, HMI dan ormas Islam lainnya akan ke Polrestabes untuk audiensi atau menyampaikan aspirasi Umat Islam. Acara audiensi dilanjutkan ke Balaikota,” kata Pimpinan Pemuda Muhammadiyah Semarang, Sri Mulyadi, Jumat (20/1).

Adapun tuntutan Ormas Islam antara lain :

1. Penggagalan pork festival atau pembatalan festival masakan Babi.

2. Mendesak Komunitas kuliner semarang supaya menghargai Semarang sebagai kota relijius.

3. Meminta pihak kepolisian tidak gampang memberikan izin untuk kegiatan-kegiatan yang berpotensi menimbulkan gejolak di masyarakat seperti festival masakan Babi yang mengganggu aqidah Umat Islam.

4. Walikota semarang harus konsekuen dan konsisten menjaga kota Semarang sebagai kota relijius.

Seperti diketahui Menyambut Tahun Baru China 2568 Imlek atau 2017 Masehi, komunitas pencinta kuliner Kota Semarang atau yang akrab disapa Brotherfood Kuliner Semarang, kembali menggelar festival makanan olahan daging babi atau Pork Festival. Seperti halnya tahun lalu, festival ini juga akan digelar di Mall Sri Ratu di Jl. Pemuda, Semarang.

Ketua Brotherfood Semarang yang juga salah satu panitia Pork Festival, Firdaus Adi Nugroho, memastikan festival makanan olahan daging babi kali ini bakal berlangsung lebih meriah dibanding tahun sebelumnya. Hal itu dikarenakan selain digelar lebih lama, yakni selama sepekan, 23-29 Januari 2017, menu yang disajikan juga lebih banyak. “Kalau tahun lalu kita hanya menyediakan 20 stand kuliner makanan olahan daging babi, kali ini lebih banyak, yakni 30 stand. Ke-30 stand ini akan menampilkan berbagai kreasi olahan daging babi, mulai dari Kebab Babi, Garang Asem Iga Babi, Kare Babi, dan masih banyak lagi,” kata Firdaus.

Firdaus Adinegoro, menyampaikan melalui Grup FB Kuliner Semarang, bahwa seperti pada judulnya, yang diperbolehkan untuk menikmati dipersilakan untuk datang dan menikmati dan men-share kegiatan tersebut. Dan kepada teman-teman Muslim yang tidak boleh makan/mencicipi, diharapkan tidak datang ke lokasi festival, demi mengantisipasi protes dari kaum intoleran, namun diperkenankan juga untuk men-share kegiatan ini, sebagai wujud kebhinekaan dan keberagaman Kota Semarang.

Festival tersebut dinilai akan menimbulkan ketidaknyamanan dan keresahan bagi umat Islam. "acara yang rencanannya bakal digelar pada tanggal 23-29 Januari mendatang itu sebaiknya dibatalkan saja. Ini untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Mengingat masyarakat saat ini mudah terprovokasi," kata Ketua Gema Pembebasan, orgnisasi yang memiliki hubungan dekat dengan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Daerah Semarang Gandha Yugo Prasetyo.

Ia menyatakan acara itu bisa disejajarkan dengan pembukaan tempat prostitusi (pelacuran) dalam jangka waktu tertentu. Pasalnya makan babi dan berzina sama-sama haram dalam Islam. Apalagi, pusat perbelanjaan Sri Ratu yang menjadi lokasi acara berada di kawasan dengan mayoritas penduduknya Muslim. “Akan ada banyak umat Islam yang akan melihat acara festival tersebut. Bagi muslim yang imannya lemah ada kemungkinan dia melanggar aturan Allah SWT. Kami menjaga kondisi agar aqidah umat Islam terjaga dari ulah orang-orang Kafir,” ujarnya. (Netralitas)

Baca Juga Ini

[random][fbig1]
Diberdayakan oleh Blogger.
IBX582A9C9AF3C11