Ratusan Ulama Berkumpul di Mojokerto, Dorong Kedaulatan Bangsa Kembali Ditegakkan Ratusan Ulama Berkumpul di Mojokerto, Dorong Kedaulatan Bangsa Kembali Ditegakkan


Ratusan Ulama Berkumpul di Mojokerto, Dorong Kedaulatan Bangsa Kembali Ditegakkan
Liputanberita.net - Ratusan ulama, habaib, profesional dan tokoh-tokoh menggelar pertemuan di di Pondok Pesantren Riyadlul Jannah milik KH Mahfudz Syaubari, Jl Raya Pacet Kec. Pacet Kab.Mojokerto, pada Sabtu, 21 Januari 2017.

"Diskusinya sangat produktif, dinamis dan semua kalimat yg keluar dari para ulama-ulama benar-benar visioner, nasionalis dan kental sekali komitmen keumatan & kebangsaannya. Saya merasakan suasana kebatinan yg luar biasa dahsyat, ada energi yg sedang bergerak melalui para ulama pengasuh pesantren ini," kata KH Fauzi Tidjani Djauhari, PP Alamien Sumenep Madura mengceritakan dalam facebooknya, Jumat (21/1/2017).

Menurut Kyai Fauzi, ia melihat suatu sinergi yang mulai dibangun dan dirancang menembus batas sekat golonganisme umat: tidak ada sekat ormas, sekat salaf modern, dll. Semuanya berbicara ke depan untuk umat dan bangsa Indonesia.

"Beberapa rumusan dan 'teriakan' telah didengungkan menyikapi kondisi terkini keumatan dan kebangsaan: politik, sosial, budaya, ekonomi bahkan hingga keamanan dan pertahanan bangsa," ujarnya.

Kata Kyai Fauzi, Prof. Dr. Bisri, Rektor Univ. Brawijaya Malang mengatakan perlunya sinergi akademisi perguruan tinggi dan santri. Banyak hasil riset perguruan tinggi yang bisa dimanfaatkan oleh pesantren. Prof Bisri juga menegaskan bahwa akses pesantren kepada perguruan tinggi harus dibuka, karena menurut pengakuannya SDM pesantren rata-rata lebih unggul.

"Selama ini mereka tidak banyak diberi kesempatan. Ini tidak adil," ucapnya menirukan Prof Bisri.

Sementara itu, tukas Kyai Fauzi, Prof. Dr. M. Nuh menyoroti tentang pentingnya pemetaan peran dan strategi keumatan. Potensi besar jika pemetaannya tidak tepat dan tidak strategis, maka selamanya umat Islam akan kalah. Prof M.Nuh juga menandaskan sinergi perguruan tinggi dengan pesantren hukumnya adalah wajib.

"Maka, ia mendorong para rektor untuk membuka akses seluas-luasnya kepada santri. Salah satu harapan bangsa ini ke depan adalah para santri," katanya mengutip Prof M. Nuh.

Lebih dari itu, menurut Kyai Fauzi, Habib Muhsin Al-Hamid dalam sambutannya menginginkan agar forum-forum seperti ini harus terus digalakkan. Menurutnya, ini adalah jembatan hati umat, yang jika kiblatnya adalah Rasulullah akan ketemu dan bersatu. Tapi jika kiblatnya adalah semata akal pikiran pasti akan berbeda.

Habib juga menyoroti bahwa umat Islam ini punya masalah, tapi tidak pernah selesai, karena ulamanya tidak pernah ketemu. Yang penting adalah ketemu hati, baru pikiran. Maka, harus ada orang yang amanah untuk menghimpun potensi dan mempersatukan umat ini.

"Potensi umat yang harus digarap adalah maritim, peternakan, agrobisnis. Bidang-bidang ini yang selama ini diabaikan umat, padahal kita punya kekuatan di situ dan strategis. Ini soal kedaulatan bangsa dan umat sekaligus," ungkapnya mengutip penjelasan Habib Muhsin.

Lanjut Kyai Fauzi, Habib yang punya TV Nabawi ini menyoroti pula tentang lemahnya umat dalam media. Sehingga, umat selalu menjadi korban media dan semua yang terjadi pada umat dikapitalisasi oleh media.

Sementara itu, ujar Kyai Fauzi, KH. Maruf Amin mengingatkan para ulama tentang dua tanggung jawab, yaitu tanggungjawab keumatan dan kebangsaan. Ia pun menegaskan bahwa jika dulu merebut kemerdekaan melalui gerakan politik, sekarang ini umat gerakannya adalah politik dan ekonomi.

"Umat melalui saluran yang ada harus mendesak pemerintah untuk membuat regulasi yang berpihak pada umat. Pemerintah harus didesak dan dikawal terus dalam hal ini," ungkap Kyai Ma'ruf seperti diceritakan Kyai Fauzi.

Kemudian, Kyai Ma'ruf menjelaskan bahwa gerakan yang dilakukan oleh ulama ada 4, yaitu: gerakan perlindungan, gerakan penguatan, gerakan penyatuan & gerakan pengabdian. Ulama jangan melepaskan diri pada gerakan kebangsaan.

"Suasana negeri saat ini memprihatinkan. Maka, perlu mendesak Presiden untuk menyelenggarakan dialog nasional untuk menyelamatkan negeri. Jika Presiden tidak berkenan, maka MUI dan para ulama yang akan adakan. Akan ada deklarasi semua ormas Islam komitmen pada NKRI dan Pancasila," beber Kyai Fauzi mengutip Kyai Ma'ruf.

Dalam pertemuan itu dibentuk pula Dewan Tinggi Ekonomi Umat yang terdiri dari para kiai pengasuh pesantren berkolaborasi dengan para pengusaha dan profesional. Dewan ini adalah suatu gerakan pemberdayaan ekonomi yang berbasis pesantren.

Adapun KH. Mahfudz Syubari pengasuh PP Raudhatul Jannah bersama Prof. Dr. KH. Muhammad Nuh (mantan Mendiknas), Prof. Dr. Imam Suprayogo (Mantan Rektor UIN Malang), Habib Muhsin (Owner Nabawi TV), KH. Maksum (Bondowoso), Dr. H. Marzuki Ali, Heppy Trenggono, dan lain-lain didaulat untuk mengawal gerakan ini.

Selain itu, dibentuk juga formatur sementara Yayasan Penguatan Peran Pesantren Indonesia (YP3I), sebuah Yayasan yang nanti akan mendorong kemajuan pesantren dan memobilisasi potensi pesantren baik dari sisi pendidikan, SDM, ekonomi dan jejaring kerjasama-kerjasama.

KH. DR (HC) Sholahuddin Wahid didaulat menjadi Ketua Dewan Pembina bersama Prof. Dr. KH. Amal Fathullah Zarkasyi (Gontor), KH. Mahfudz Syubari (Mojokerto), Habib Soleh Al-Jufri, KH. Akbar, Dr. KH. Muzammil Basyuni dan Prof. Dr. KH. Ahmad Zahro.

Sedangkan Dr. H. Marzuki Ali dan Ir. Heppy Trenggono didaulat sebagai Ketua Umum dan Wakil Ketum. Adapun Sekretaris Umum dipercayakan kepada KH. Bahrul Hayat, Ph.D (Mantan Sekjen Kemenag) dan Drs. KH. Rusli Effendi, M.Si sebagai Wakil Sekum. Bendahara Umum diamanatkan kepada KH. Anang Rikza Masyhadi, MA dari PM Tazakka Batang.

Dalam kesempatan itu, disepakati pula tentang perlunya penguatan karakter dan mental umat melalui pendidikan keagamaan yang berkesinambungan baik melalui jalur formal pendidikan dan pesantren maupun melalui informal.

"Ulama harus menjadi kendali moral dan karakter kebangsaan. Ulama harus ambil peran strategis. Ulama harus dijaga muruah dan wibawanya," tegas Kiyai Fauzi

Menurutnya, banyak hal didiskusikan, namun tidak mungkin disebut satu per satu dalam penjelasannya. Ia menjelaskan bahwa pertemuan selama kurang lebih 6 jam baik pada sesi umum maupun sesi khusus terbatas, ia saksikannya sebagai suatu komitmen yang luar biasa.

"Ya, intinya para ulama menyerukan kepada semua elemen bangsa khususnya Pemerintah untuk mengembalikan lagi kedaulatan bangsa," tandasnya.

Di antara yang hadir dalam pertemuan tersebut adalah ulama-ulama sepuh seperti KH. Maruf Amin, KH. Sholahuddin Wahid, KH. Soleh Al-Qasim, KH. Maksum (Bondowoso), KH. Nasiruddin (Tuban), Gus Munip (Langitan), Gus Zaim (Lasem), Gus Akomadhien (Brebes), Dr. KH. Fauzi Tidjani (Madura), dan puluhan ulama lainnya.

Dari kalangan habaib di antaranya Habib Husen Al-Idrus, Habib Soleh, Habib Muhsin Al-Jufri, dan lain-lain.

Sementara dari kalangan akademisi, rektor dan tokoh diantaranya adalah Prof. Dr. Muhammad Nuh (Mantan Mendiknas), Prof. Dr. M. Bisri (Rektor Univ. Brawijaya), Prof. Dr. Imam Suprayogo (mantan Rektor UIN Malang), Prof. Dr. Ahmad Zahro, Dr. H. Marzuki Ali, Ir. H. Heppy Trenggono, dan lain-lainnya. "Sekitar 200 an ulama, habaib dan akademisi berkumpul dari segala penjuru tanah air," jelas Kyai Fauzi. (vi)

Artikel Menarik Lainnya

loading...

Baca Juga Ini

[random][fbig1]
Diberdayakan oleh Blogger.
IBX582A9C9AF3C11