SBY Curhat Soal Hoax, Goenawan Mohamad: Itu Sudah Menggila di Pilpres 2014 | Liputan Berita


SBY Curhat Soal Hoax, Goenawan Mohamad: Itu Sudah Menggila di Pilpres 2014
Liputanberita.net - Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menuliskan cuitan pertamanya di tahun 2017 ini dengan pernyataan bernada resah. Keresahan itu terkait kondisi negara saat ini yang marak dengan berita hoax.

“Ya Allah, Tuhan YME. Negara kok jadi begini. Juru fitnah & penyebar ‘hoax’ berkuasa & merajalela. Kapan rakyat & yg lemah menang? *SBY*,” tulis SBY lewat akun Twitter-nya, @SBYudhoyono, Jumat (20/1/2017).

Sebagaimana kita tahu, tanda *SBY* di ujung tweet mengartikan bahwa tweet tersebut ditulis sendiri oleh SBY.

Cuitan SBY itu memantik tanggapan banyak pihak. Salah satunya sastrawan dan pendiri komunitas Salihara, Goenawan Mohamad.

Goenawan Mohamad, atau akrab disapa Mas Goen, mencoba menanggapi curhatan SBY tersebut dengan mangatakan bahwa hoax sejatinya sudah marak sejak pemilih presiden 2014 lalu. Ia pun menunjuk tabloid kontroversial Obor Rakyat dan Andi Arief yang diduga banyak kalangan berdiri di belakangnya.

“Dgn hormat, fitnah dan hoax itu sudah menggila di Pilpres 2014, terutama thd @jokowi . Lewat “Obor Rakyat”. Bisa cek ke Andi Arif. Tksh,” tulis Goenawan Mohamad lewat akun Twitter @gm_gm.
Kontroversi Obor Rakyat dan Andi Arief

Tabloid Obor Rakyat beredar masif pada pemilu 2014. Tabloid tersebut ditengarai berisi hoax dan fitnah yang ditujukan untuk Jokowi sebagai peserta pemilu saat itu.

Pada salah satu edisinya, yakni edisi I 5-11 Mei 2014, di halaman muka Obor Rakyat menampilkan judul “Capres Boneka” dengan karikatur Jokowi sedang mencium tangan Megawati Soekarnoputri.

Judul lain yang ditampilkan di halaman ini adalah “184 Caleg Nonmuslim PDIP untuk Kursi DPR” dan “Ibu-ibu: Belum Jadi Presiden udah Bohongin Rakyat.”

Tabloid ini menampilkan 14 berita panjang yang hampir semuanya menyudutkan Jokowi. Beberapa judul berita dalam tabloid ini antara lain “Capres Boneka Suka Ingkar Janji”, “Disandera Cukong dan Misionaris”, “Dari Solo Sampai Jakarta Deislamisasi ala Jokowi”, “Manuver Jacob Soetojo”, “Cukong-Cukong di Belakang Jokowi”, “Partai Salib Pengusung Jokowi” dan “Jokowi Juru Selamat yang Gagal”.

Ada pula berita kecil-kecil yang dikompilasi dengan judul besar, “Mereka Menolak Jokowi”. Misalnya, “Jokowi Khianati Tokoh Legendaris Betawi”, “Koalisi Masyarakat Jakarta Baru Tolak Jokowi Nyapres”, “Jokowi Maruk dan Ingkar Janji”, “Mahasiswa ITB Tolak Jokowi”, dan “71,2 Persen Warga DKI Tolak Jokowi jadi Capres”.

Rubrik wawancara tabloid ini menampilkan salah satu Ketua Majelis Ulama Indonesia Kholil Ridwan. Judul yang dipilih rubrik ini adalah “Jokowi Selalu Mewariskan Jabatan ke Non-Muslim”. Di cover belakang, Obor Rakyat memuat karikatur Jokowi dengan hidung panjang seperti Pinokio dengan judul “Sang Pendusta, Mau Dibohongi Lagi?”

Terkait pihak-pihak di belakang Obor Rakyat, santer berhembus kabar bahwa mereka adalah orang-orang di lingkar istana saat itu.

Darmawan Sepriyossa, jurnalis yang dituding berada di balik peredaran tabloid Obor Rakyat, menuturkan kepada Tempo, bahwa ia mengaku terlibat setelah sebelumnya diajak oleh Setiyardi Budiono, Asisten Staf Khusus Presiden SBY. (Setiyardi adalah orang yg diajak masuk Ring 1 Istana Mantan Presiden SBY Oleh Andi Arief).

Setiyardi Budiono adalah asisten staf khusus Presiden SBY bidang Pembangunan dan Otonomi Daerah, Velix Wanggai. Setiyardi tidak diangkat langsung oleh presiden SBY, namun diangkat lewat mandat dari Sekretaris Kabinet Dipo Alam atas usulan yang diberikan oleh Velix Wanggai selaku atasannya.

Hubungan Setyardi dengan Velix maupun pun Andi Arief sudah lama terjalin. Setelah keluar dari Tempo, Setiyardi sempat menjadi tim media Fauzi Bowo (Foke). Dia dan Andi arief adalah sobat lama, teman sesama perantau yang berasal dari lampung. Hubungan kroniisme ini membuat Setiyardi menjabat posisi asisten staf khusus Velix Wanggai pada tahun 2010.

Selain menjabat sebagai asisten staf khusus presiden Setiyardi juga diberikan jabatan Komisaris di perusahaan BUMN, PTPN VIII. Kekuatan besar dari Cikeas inilah yang membuat Setiyardi tidak gentar dengan proses hukum yang akan dihadapinya. Dia juga tidak mengubah nama ataupun identitasnya untuk menerbitkan harian Obor Rakyat. Bahkan dengan bangga dia menyebutkan bahwa ini adalah produk jurnalistik. (Jurnalpolitik)

Artikel Menarik Lainnya

Baca juga ini

[random][fbig1]
Diberdayakan oleh Blogger.
close