Ustadzah Irena Handono Pernah Menjadi ‘Calon’ Biarawati, tetapi Bukan Mantan Biarawati Ustadzah Irena Handono Pernah Menjadi ‘Calon’ Biarawati, tetapi Bukan Mantan Biarawati


Ustadzah Irena Handono: Pernah Menjadi ‘Calon’ Biarawati, tetapi Bukan Mantan Biarawati
Liputanberita.net - Ustadzah Irena Handono dikenal banyak orang karena pengakuannya sebagai mantan biarawati Katolik. Ibu ini cukup gencar membuat ceramah di banyak tempat. Hampir dalam setiap ceramahnya, ia selalu selipkan ocehannya terhadap Gereja Katolik.

Rupanya label ‘mantan biarawati’ yang selalu dibawanya cukup menarik perhatian banyak orang dan mempunyai nilai jual yang tinggi. Dengan label itu, ia dianggap pantas menyandang gelar Kristolog nasional.

Banyak orang, baik dari kalangan Katolik maupun non-Katolik kemudian bertanya, “Apakah benar ibu ini seorang mantan biarawati Katolik?”

Memang, bagi orang yang tidak mengerti model hidup membiara di Gereja Katolik tentu akan langsung percaya bahwa ibu ini adalah benar-benar seorang mantan biarawati Katolik, tetapi bagi mereka yang mengerti Kekatolikan akan langsung tahu bahwa orang ini sebenarnya sedang berbohong.

Perlu kita ketahui bahwa setiap biarawati di Gereja Katolik terafiliasi dengan kelompok tertentu yang disebut ordo, kongregasi, atau tarekat. Maka, siapapun yang pernah menjadi biarawan atau biarawati di Gereja Katolik akan dengan mudah diketahui di ordo mana dia bergabung atau pernah bergabung, kapan dia masuk, tugasnya di mana atau pernah tugas di mana, jika kemudian dia keluar pasti dicantumkan juga kapan dia keluar dan alasannya apa, berapa lama dia bergabung menjadi biarawan atau biarawati, dan sebagainya. Semua data pribadi setiap calon anggota atau setiap anggota pastilah tersimpan dengan baik. Jadi, tidak bisa ngarang.

Untuk menjadi seorang biarawati di Gereja Katolik tentu dengan modal niat saja belum cukup. Seorang wanita Katolik yang ingin menjadi biarawati haruslah melamar di ordo, kongregasi, atau tarekat tertentu. Setelah diterima di sana, orang bersangkutan akan mengikuti tahap demi tahap dalam masa pembinaan. Tahap pembinaan paling awal yang harus dilewati adalah masa postulat. Ini berlangsung selama setidaknya dua tahun. Mereka yang berada di tahap ini belum bisa disebut sebagai biarawati tetapi baru sebatas calon biarawati (biasanya disebut sebagai postulan).

Status biarawati baru bisa diberikan setelah penerimaan jubah atau dalam istilahnya ‘kleding’. Biasanya jubah itu diterima menjelang masuk novisiat (tahun terakhir masa postulat). Novisiat adalah masa setelah postulat. Masa ini biasanya berlangsung selama kurang lebih dua tahun (tergantung kebijakan ordo, tarekat, atau kongregasi masing-masing).

Pada tahun terakhir masa novisiat, setiap suster novis (sebutan untuk mereka yang berada di tahap ini) harus mengucapkan kaul (janji) pertama. Kaul yang mereka ucapkan masih bersifat sementara, artinya sewaktu-waktu masih harus diperbaharui, jika tidak maka akan dikeluarkan dari ordo, kongregasi, atau tarekat. Setelah mengucapkan kaul itu, suster bersangkutan masuk ke tahap selanjutnya yaitu masa yuniorat. Mereka yang berada di tahap ini disebut suster yunior. Masa ini berlangsung selama lima tahun. Semua proses itu diakhiri dengan apa yang disebut kaul kekal, yaitu janji hidup taat, miskin, dan murni untuk selamanya. Setelah kaul kekal diucapkan barulah seseorang disebut sebagai biarawati yang sesungguhnya. Artinya, suster bersangkutan sudah sah menjadi anggota resmi dan tetap di ordo, kongregasi, atau tarekatnya.

Nah, kembali ke laptop, bagaimana dengan Irena Handono? Dari hasil penelusuran Gayatri WM diceritakan bahwa sewaktu masih menjadi seorang remaja Katolik, Irena Handono bercita-cita menjadi seorang biarawati (suster). Ia pun disebutkan pernah menjadi calon di salah satu ordo, yaitu ordo Ursulin. Baru calon lho. Niatnya untuk menjadi seorang suster Ursulin tidak kesampaian karena ternyata setelah beberapa bulan bergabung di ordo itu, ia kemudian dikeluarkan karena alasan sakit. Ini alasan yang normal dan wajar untuk setiap pendidikan calon imam, bruder, atau suster.

Dengan demikian, Irene Handono tidak pernah sampai ke tahap penerimaan jubah dan kaul pertama sebab ia dikeluarkan sebelum sampai ke tahap itu. Dengan kata lain, ia dikeluarkan ketika masih berada di masa postulat. Lantas, pantaskah ia disebut sebagai mantan biarawati? Jelas tidak. Dia hanya ‘merasa’ sebagai mantan biarawati, padahal kenyataannya tidak. Dia hanyalah seorang mantan ‘calon’ biarawati. Entah apa tujuan di balik penyebutannya itu, hanya dia dan Tuhan yang tahu.

Bagaimana dengan gelar yang disematkan kepadanya sebagai Kristolog nasional? Jujur, bagi saya, sebutan ini sangat aneh. Banyak pakar teologi, profesor dan doktor dogmatik Gereja Katolik tidak pernah menyebut diri sebagai Kristolog nasional. Sementara Ibu Irena, yang kita tidak pernah tahu belajar teologi di mana dengan tanpa malu menyebut diri sebagai seorang Kristolog nasional.

Memang, sebagai calon biarawati boleh jadi dia pernah mengikuti kuliah pengantar filsafat atau teologi. Tetapi itu baru pengantar lho. Calon biarawati tidak pernah belajar secara mendalam soal Kristologi. Matakuliah Kristologi hanya diberikan kepada mahasiswa teologi semester tinggi sebab untuk mempelajari matakuliah itu seorang mahasiswa teologi harus sudah mempelajari matakuliah-matakuliah dasar teologi. Itu syarat mutlak yang harus dipenuhi. Maka, sangat tidak mungkin jika seorang calon suster yang baru saja beberapa bulan bergabung dengan ordo, tarekat, atau kongregasi langsung mempelajari matakuliah Kristologi.

Jangankan seorang calon biarawati, setiap biarawati saja tidak wajib belajar teologi atau filsafat. Hanya biarawati tertentu yang ditunjuk untuk belajar dua bidang studi itu, yang lainnya biasanya mengambil spesialisasi lain, misalnya, mengambil jurusan kesehatan, keguruan, dan sebagainya. Dua bidang studi itu hanya wajib diberikan kepada calon pastor. Dengan demikian, bisa dipastikan bahwa sebagai seorang calon biarawati, Irena Handono pastilah lebih banyak belajar soal pengenalan hidup membiara dan sejarah ordonya saja, bukan filsafat dan teologi. Maka, menurut saya, tidak bijaksanalah jika dia menyebut dirinya sebagai seorang Kristolog, apalagi Kristolog nasional.

Lantas, apa reaksi orang Katolik terhadap pengakuan Ibu Irena Handono? Orang Katolik, sudah menjadi tradisinya, tidak mempermasalahkan hal-hal seperti itu. Orang Katolik tahu bahwa tidak semua hal pantas ditanggapi. Cukup hal yang penting saja. Komentar lepas seperti yang lazim disampaikan oleh Ibu Irena dalam setiap ceramahnya yang memojokkan Gereja Katolik jelas tidak pernah dianggap penting oleh Gereja Katolik. Jika dibahasakan ‘diamnya’ Gereja Katolik mungkin akan berbunyi seperti ini, “Sudahlah. Banyak hal yang penting yang harus kita buat daripada menanggapi ibu yang satu ini. Jika dia merasa apa yang dia katakan itu bisa menghasilkan sesuatu, ya silahkan”. Salam sehati-sejiwa. (Seword)

Artikel Menarik Lainnya

loading...

Baca Juga Ini

[random][fbig1]
Diberdayakan oleh Blogger.
IBX582A9C9AF3C11