Apakah sudah se-putus asa itu kedua Paslon untuk berkompetisi dengan Petahana? | Liputan Berita


Paslon 1 dan 3 Bersama Menyerang Paslon 2
Liputanberita.net - Kita sangat kecewa dengan keikutsertaan dua Paslon penantang Petahana dalam acara yang sarat SARA ini. Bagaimana mungkin seorang calon kepala daerah yang menjadi pengayom seluruh warganya harus memulai karirnya dengan sebuah keberpihakan kepada agama mayoritas? Bagaimana mungkin seorang calon kepala daerah harus mengorbankan integeritasnya hanya untuk memenangkan Pilkada dengan berpihak kepada oknum yang jelas-jelas merusak kebhinekaan kita?

Apakah sudah se-putus asa itu kedua Paslon untuk berkompetisi dengan Petahana? Sehingga, peluang apapun itu, seberapa kotor itu, seberapa pun buruknya itu bagi demokrasi negeri ini, selama itu masih memungkinkan untuk ditempuh, mereka akan menempuhnya.

Kita akan menjadi saksi sejarah bahwa ada sebuah upaya untuk melemahkan Pancasila di Ibukota. Dengan menggadaikan Firman Tuhan mereka berteriak bahwa si fulan haram menjadi pemimpin. Padahal, apa yang mereka haramkan tak sesimpel itu. Ia perlu ilmu dan kajian panjang yang mendalam. Sebab agama memang tak sesimpel jualan obat atau minyak wangi. Alih-alih mengatasnama umat Islam negeri ini, mereka semakin menggadaikan agama mereka untuk kepentingan politik yang kotor dan busuk.

Semakin kalap semakin mereka berteriak “Hukum Allah harus tegak!” Hukum Allah yang mana? Bukankah kita berhukum pada Pancasila dan Undang-Undang? Indonesia bukan Timur Tengah. Kemerdekaan yang kita dapat dulu adalah hasil perjuangan setiap elemen masyarakat tanpa memandang suku, agama, ras, dan warna kulit. Bukankah ini yang menjadi cikal bakal dibuatnya “tenun kebangsaan”?

Lalu tiba-tiba, dengan satu sebab “untuk memenangkan Pilkada”, sang penggagas “tenun kebangsaan” itu berkhianat. Menggadaikan idealisme yang dulu sempat ia bangun, meruntuhkan gagasan yang ia rajut kini.

Setiap janji manis tentang Jakarta yang lebih humanis bagi siapapun harus tunduk pada sebuah ambisi memenangkan kontestasi. Sejahat itukah politik hingga membuat orang lupa bahwa bumi itu bulat? Bahwa kebhinekaan adalah sebuah keniscayaan yang tidak bisa kita tawar menawar lagi?

Kalau memang genderang perang dengan menggadaikan Firman Tuhan untuk sekedar memenangkan Pilkada telah ditabuh. Maka, bersiaplah saya dan banyak orang lain yang masih percaya bahwa Pancasila adalah alasan kita merdeka dan alasan kita masih bisa bernafas lega di NKRI tercinta ini, untuk berdiri di barisan paling depan.

Kami akan tumpas setiap upaya untuk menggoyahkan kesaktian Pancasila. Kami akan tumpas setiap upaya untuk menjual agama demi kepentingan politik kotor semata.

Kita lihat saja nanti. Sejarah akan mencatat bahwa Pancasila tetap akan perkasa, meski seberapa pun kerasnya upaya untuk menghantamnya.

Ditulis oleh : Muhammad Nurdin dari Seword.com

Artikel Menarik Lainnya

Baca juga ini

[random][fbig1]
Diberdayakan oleh Blogger.
close