Saksi Ahli Tafsir UIN: Ahok Kritik Politikus yang Pakai Al-Maidah Saksi Ahli Tafsir UIN: Ahok Kritik Politikus yang Pakai Al-Maidah


Saksi Ahli Tafsir UIN: Ahok Kritik Politikus yang Pakai Al-Maidah
Liputanberita.net - Dosen tafsir Al-Quran Universitas Islam Sunan Kalijaga Yogyakarta, Sahiron Syamsuddin, yang menjadi saksi ahli kasus dugaan penistaan agama oleh terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, mengatakan Gubernur DKI Jakarta nonaktif itu tak menistakan agama.

“Pak Ahok mengkritik para politikus yang menggunakan surat Al-Maidah ayat 51 untuk kepentingan politik tertentu,” kata dia seusai sidang ke-16 di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta, Rabu, 29 Maret 2017.

Dalam kesaksiannya, Sahiron mengatakan Ahok tak menyebut nama ulama tertentu. “Jadi tidak menodai,” kata dia. “Pak Ahok tidak menghina Al-Quran surat Al-Maidah ayat 51."

Sahiron menganggap, dalam memahami surat Al-Maidah ayat 51, harus memperhatikan aspek bahasa, sejarah, dan pesan utama ayat tersebut. “Dari sisi bahasa, aulia bukan pemimpin, tapi lebih kepada teman setia,” ucapnya.

Ia merujuk pada sebuah fatwa di Mesir. Masyarakat negara tersebut yang berpenduduk mayoritas muslim dan memiliki konstitusi yang jelas, kata dia, bisa memilih pemimpin nonmuslim. “Di negara yang punya konstitusi, punya parlemen, punya MPR dan DPR, mufti di Mesir mengatakan boleh saja yang dipilih orang Islam, boleh yang nonmuslim, boleh juga kaum wanita," kata Sahiron.

Enam orang saksi dihadirkan tim pengacara Ahok dalam sidang ke-16 itu. Dua saksi ahli masuk berita acara pemeriksaan (BAP), yakni ahli bahasa dari Universitas Katolik Atma Jaya, Bambang Kaswanti Purwo, dan ahli psikologi sosial, yang juga Direktur Pusat Kajian Representasi Sosial dan Laboratorium Psikologi Sosial Eropa, Risa Permana Deli.

Sahiron termasuk satu dari lima saksi ahli lain yang tak masuk BAP. Keempat saksi ahli lain, di antaranya ahli agama Islam, yang juga Wakil Ketua Mustasyar Persatuan Tarbiyah Islamiyah, Hamka Haq; ahli agama Islam sekaligus Wakil Ketua Dewan Masjid Indonesia, Masdar Farid Mas'udi; dan ahli hukum pidana sekaligus dosen hukum pidana Universitas Udayana, I Gusti Ketut Ariawan. (Tempo)

Artikel Menarik Lainnya

loading...

Baca Juga Ini

[random][fbig1]
Diberdayakan oleh Blogger.
IBX582A9C9AF3C11