Program Tol Laut Sukses, Kapal Raksasa Merapat ke Jakarta, Ekonomi Bangkit, Singapura Ketar-Ketir Program Tol Laut Sukses, Kapal Raksasa Merapat ke Jakarta, Ekonomi Bangkit, Singapura Ketar-Ketir


Program Tol Laut Sukses, Kapal Raksasa Merapat ke Jakarta, Ekonomi Bangkit, Singapura Ketar-Ketir
Liputanberita.net - Berpuluh-puluh tahun bangsa kita menanti hari ini. Hari dimana era kebangkitan “poros maritim” benar-benar nampak terang benderang. Sinarnya bagai mentari yang muncul sehabis mendung tak berkesudahan. Saya jadi teringat sebuah lagu klasik yang menggambarkan bangsa kita.

“Nenek moyangku seorang pelaut. Gemar mengarung luas samudra. Menerjang ombak tiada takut. Menempuh badai sudah biasa.”

Minggu lalu. Sebuah kapal raksasa bersandar di Pelabuhan Tanjung Priok. Ia nampak perkasa. Daya angkutnya mencapai 8.500 Teus. Ia layaknya Bahtera Nabi Nuh yang mampu mengangkut segalanya. Berpuluh-puluh tahun sang negeri maritim menanti hari ini. Menantikan sebuah masa kejayaannya dulu, sebagai raja di lautan.

Kemarin, Presiden kita menyampaikan akan ada satu kapal raksasa lagi yang akan bersandar di Tanjung Priok. Kapal ini lebih besar dari sebelumnya. Ia mampu mengangkut 10.000 Teus. Ini yang pertama kali terjadi dalam sejarah kemaritiman bangsa kita. Juga pertama kali dalam sejarah, sebuah kapal raksasa yang membawa logistik “langsung” menuju Indonesia, tidak mampir dulu ke Singapura.

Tentu para pembaca bertanya-tanya, mengapa kapal-kapal raksasa itu mau bersandar ke Tanjung Priok?

Semua bermula dari “ide gila” Presiden kita. Ide gila tentang poros maritim. Ide gila yang ditertawakan banyak orang saat pertama kali disampaikan ke publik saat Jokowi maju sebagai Calon Presiden tahun 2014. Cukup banyak orang yang mencelanya. Mengait-ngaitkannya dengan China dan Komunis atas ide “poros maritim” ini.

Tapi tahukah anda. Saat Jokowi berhasil menduduki kursi RI1, lalu program “poros maritim” mulai berjalan dengan “tol laut”-nya, apa yang terjadi? Banyak kepala negara memintanya untuk bertemu. Apa yang ingin mereka bicarakan? Tidak lain adalah proyek “poros maritim”-nya Indonesia seperti apa?

Mulai dari Rusia, China, Amerika Serikat, dan Jepang. Para Menteri Luar Negeri negara-negara tersebut, saat berkunjung ke Indonesia hanya itu saja yang dibicarakan, poros maritim dan tol laut. Poros Maritim dengan tol laut Jokowi dianggap proyek yang brilian yang mampu mengundang investasi di negeri kita.

Anda tentu bertanya-tanya, apa yang hebat dari tol laut Jokowi? Bukannya cuma begitu-begitu saja?

Yang membedakannya adalah adanya upaya untuk menekan harga untuk daerah-daerah luar Pulau Jawa. Tiap tahun diharapkan terjadi penurunan harga logistik minimal 5 persen. Sampai akhirnya, harga antara di Jawa dan daerah-daerah lainnya sama.

Selain itu. Dengan adanya tol laut ini. Potensi sumber daya daerah setempat baik alam maupun produksi masyarakat lokal dapat dipasarkan secara luas, bahkan sampai ke luar negeri. Tol laut ini yang akan memudahkan masalah distibusinya.

Setelah proyek tol laut ini memperlihatkan hasil yang gemilang. Pemerintah tinggal memperbaiki masalah waktu bongkar muat (dwelling time) di pelabuhan-pelabuhan besar, khususnya Tanjung Priok. Ini masalah klasik yang membuat pelabuhan kita tidak pernah disinggahi kapal-kapal raksasa. Kalaupun ada, kapal-kapal tersebut harus singgah dulu ke Singapura yang menambah beban biaya.

Mengapa kapal raksasa asal Prancis yang bernama Compagnie Maritime d’Affretement-Compagnie Generali Maritime (CMA-CGM) dengan kapasitas 8.500 Teus mau bersandar ke Tanjung Priok tanpa harus singgah di Singapura?

Jawabannya, karena poros maritim kita dengan tol lautnya sukses, dan kemampuan bongkar muat kita sepadan dengan kapasitas kapal kargo tersebut. Yang namanya kapal kargo, mereka tak akan pergi tanpa muatan yang banyak. Saat proyek tol laut ini sukses, barang-barang dari seluruh nusantara dapat dikumpulkan dengan cepat di Jakarta. Dan dapat langsung diangkut oleh kapal-kapal raksasa tadi.

Ada tiga hal yang menjadi faktor kuncinya. Pertama, kemudahan mengumpulkan barang-barang di satu titik. Kedua, dari kemudahan tadi diperoleh efisiensi baik itu dari segi waktu dan biaya. Ketiga, masalah dwelling time dapat diatasi. Tiga faktor kunci inilah, alasan kapal-kapal raksasa masuk dan akan masuk lebih banyak lagi ke Jakarta.

Lalu bagaimana dengan Singapura? Sudah terlalu lama Singapura mempecundangi negeri kita. Negeri kita sudah tertinggal jauh. Tapi kita mulai mengejar. Dan merampas satu persatu hak kita. Mulai dari pajak, BBM, lalu pelabuhan laut internasional.

Satu persatu mulai kita lucuti. Tax Amnesty membuat Singapura ketar-ketir, berapa banyak uang yang keluar dari negeri itu dan pulang kampung ke negeri ini.

Dari dulu kita beli BBM ke Singapura. Kilang minyak yang kita punya tak mampu mencukupi kebutuhan BBM dalam negeri. Tentu ini membuat biaya makin membengkak. Tapi, Presiden kita memang cerdas. Ia punya cara membangun kilang minyak tanpa biaya. Diajaklah Arab Saudi untuk investasi. Disetujuilah pembangunan Kilang Minyak di Cilacap. Akhirnya, kita bisa memperoleh BBM tanpa impor dari luar negeri.

Dan yang terakhir adalah pelabuhan laut internasional. Ini sangat berdampak pada biaya logistik. Awalnya kita selalu bergantung pada Singapura untuk ekspor atau impor barang. Tentu beban biaya makin besar. Yang berakibat pada tingginya harga jual di dalam negeri. Jika pengirimannya langsung dari dan ke Indonesia, biaya logistik akan dipangkas.

Sudah saatnya negeri ini bangkit dengan kekuatan maritimnya. Sudah sejak dulu bangsa kita dikenal sebagai raja di lautan. Sekarang lah waktu yang tepat untuk merebut kembali kejayaan yang dulu pernah kita miliki.

Sehat terus Pak Presiden…

Ditulis oleh : Muhammad Nurdin dari Seword.com

Baca Juga Ini

[random][fbig1]
Diberdayakan oleh Blogger.
IBX582A9C9AF3C11