Makin Panas! Fahri Desak Presiden PKS Mundur atau Dipolisikan Makin Panas! Fahri Desak Presiden PKS Mundur atau Dipolisikan

Makin Panas! Fahri Desak Presiden PKS Mundur atau Dipolisikan
Liputanberita.net - Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah tak terima dengan pernyataan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Mohamad Sohibul Iman yang menyebut dirinya dipecat dari PKS karena berbohong dan membangkang.

Melalui akun instagram-nya, @fahrihamzah, politikus kelahiran Sumbawa, Nusa Tenggara Barat itu mengancam akan melaporkan Sohibul ke polisi. Fahri meminta Sohibul menunjukkan bukti atas pernyataan yang menyebut dirinya berbohong.

“Tuan @msi.sohibuliman mana bukti fitnah kepada saya? Waktu sudah lebih 24 jam. Pemimpin berbohong menuduh orang bohong kok mudah betul ya?,” tulis Fahri, Sabtu (3/3/2018).

“Tidak ada rasa bersalah sama sekali. Bohong kepada publik dianggap mudah. Bikin malu partai. Bikin rusak semua yg ada,” kata Fahri.

Fahri mengaku akan melaporkan Sohibul ke polisi atas dugaan pencemaran nama baik, fitnah, perbuatan tidak menyenangkan, pemalsuan, permufakatan jahat, dll.

Namun, sebelum melaporkan ke polisi, Fahri terlebih dahulu meminta agar Sohibul Iman mundur dari PKS.

Terlebih, kata Fahri, Sohibul Iman telah dipermalukan oleh kadernya sendiri dengan diteriaki “huuuu”.

“Belum pernah presiden PKS diperlakukan begini. Maka demi memperbaiki partai ini sebaiknya mundur saja. Partai perlu penyegaran oleh figur baru yg berjodoh dengan kader PKS,” tutur Fahri.

Daripada dimundurkan, lanjut Fahri, lebih baik Sohibul mundur karena pemilu sudah dekat. Jangan sampai PKS hilang di pemilu 2019 hanya karena pemimpinnya sudah tidak bisa mengangkat tenaga batin kader PKS.

“Kekuatan PKS ada di kader dan hanya ketulusan yang dapat membangunkannya. Saya gak mau buka yang lain, tapi presiden partai bertanggungjawab atas memburuknya keadaan,” imbuhnya.

Menurut Fahri, dengan kegemaran berbohong dan menganggap orang lain bisa difitnah sembarangan telah membuat PKS semakin kehilangan pamor.

Menurut Fahri, reputasi PKS hancur di tangan Sohibul. Karena itu, ia berharap Presiden PKS tersebut segera mengundurkan diri. Fahri memberikan batas waktu hingga Senin untuk mundur.

“Saya kasi waktu @msi.sohibuliman sampai Senin untuk mengundurkan diri. Semoga partai bisa selamat dan rekonsiliasi. Mari kita doakan PKS agar MSI mundur demi kemenangan dalam pemilu 2019. #SavePKS #BismillahMSImundur,” pungkas Fahri.

Sebelumnya Presiden PKS Sohibul Iman mengungkapkan soal latar belakang pemecatan Fahri Hamzah dari partainya. Apa yang sudah dilakukan dan apa ‘dosa-dosa’ Fahri hingga akhirnya dipecat dari seluruh keanggotaan partai.

Menurut Sohibul, awal mula perseteruan PKS dengan Fahri adalah saat Fahri hendak dirotasi dari posisi Wakil Ketua DPR. Sohibul meminta Fahri dalam kapasitasnya sebagai pimpinan tertinggi partai pada Oktober 2015.

“(Saya katakan) ‘Fahri, setelah saya lihat, antum ini ternyata tidak cocok sebagai etalase tertinggi PKS.’ Etalase tertinggi PKS hari ini kan pimpinan DPR, karena menteri nggak punya kan. ‘Kayaknya antum ini cocoknya di alat kelengkapan yang lain.’ Sudah kita sediakan di BKSAP. Ini bulan Oktober tanggal 20,” ujar Sohibul kepada wartawan, Kamis (1/3/2018).

Saat itu, kata Sohibul, Fahri sudah menyepakati dan bersedia mematuhi keputusan partai. Hanya, Fahri meminta tidak langsung dicopot dari kursi pimpinan DPR sebab masih memiliki tugas muhibah ke luar negeri yang telah dijadwalkan jauh hari sebelumnya.

“Terus dia bilang, ‘Siap ustaz’. Itu benar-benar kader PKS, asli itu. (Fahri mengatakan) ‘Siap Taz, sami’na wa atha’na, saya siap mundur dari pimpinan DPR terserah saya nanti ditempatkan di mana, yang penting saya tetap berada di PKS. Tapi saya sudah punya janji sebagai pimpinan DPR, mau muhibah ke sana-ke sini-kemari, tolong izinkan saya sampai pertengahan Desember.’ ‘Silakan,’ kata saya,” tutur Sohibul.

Namun, masih kata Sohibul, ternyata Fahri tidak memenuhi janjinya. Pada Desember 2015, tidak seperti yang dijanjikannya, Fahri terus-menerus membuat alasan supaya tidak melepas posisi Wakil Ketua DPR. Secara aturan sesuai dengan UU MD3, fraksi memang berhak mengatur kader-kadernya di alat kelengkapan Dewan, termasuk di kursi pimpinan DPR.

“Begitu masuk Desember mulai, nggak mau. Apa itu bukan bohong? Bohong itu namanya dan membangkang namanya itu. Coba di partai lain,” kata Sohibul.

Politisi kelahiran Tasikmalaya 5 Oktober 1965 itu kemudian memberi contoh partai lain yang memaksa kadernya masuk di Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD), padahal si kader tidak berkenan. Pimpinan partai itu, kata Sohibul, mengancam akan memecat hingga akhirnya kader yang dimaksud bersedia diproyeksikan di MKD.

“Ketika MKD lagi panas-panasnya. Itu organisasi, termasuk korporat kan juga gitu. Nah Fahri tu begitu, simpel konstruksinya. Kenapa dia kemudian tiba-tiba jadi tidak mau? Bahkan kemudian membuat cuat-cuit aneh-aneh. Itu semakin jauh dari tabiat kader PKS,” ucap Sohibul.

Atas dasar itulah PKS akhirnya mencopot Fahri dari seluruh keanggotaan partai pada April 2016. Namun kemdian Fahri menggugat PKS ke PN Jakarta Selatan dan mengadukan sejumlah petinggi partai tersebut, termasuk Sohibul Iman.

Pada Desember 2016, PN Jaksel memenangkan gugatan Fahri dan menyatakan pemecatannya tidak sah.

PKS kemudian mengajukan banding, yang kemudian kembali kalah dari Fahri.

Seiring pasang-surut hubungan keduanya, Fahri tetap mengaku sebagai kader PKS.

“Kan belum selesai (masalah hukum soal pemecatan Fahri), kita masih kasasi. Itu sebagai bagian proses, ya silakan aja,” pungkas Sohibul. (jurnalpolitik)

Baca Juga Ini

[random][fbig1]
Diberdayakan oleh Blogger.
IBX582A9C9AF3C11